RADAR JOGJA – Guguran material dan lava pijar Gunung Merapi menyebabkan hujan abu tipis di Kapanewon Cangkringan, Sleman. Hujan abu yang terjadi pada Minggu (10/1) malam itu dirasakan warga di daerah Singlar, Srunen, Kalitengah Lor, dan Kalitengah Kidul.

Tidak hanya hujan abu, hujan deras juga mengakibatkan banjir lahar di sejumlah titik sungai yang berhulu di Merapi. Komandan Tim Reaksi Cepat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman Sugiyanto menjelaskan, hujan abu berlangsung 10 hingga 15 menit.

Hujan abu mulai turun sekitar pukul 19.49. Namujn demikian, adanya hujan abu dari aktivitas vulkanik Gunung Merapi ini tidak menyebabkan sebagian warga yang masih berada di Kalitengah Lor turun ke barak pengungsian. Warga tidak panik dan tetap tenang.

“Ini menambah semangat para relawan di tiap padukuhan agar lebih giat melakukan tugasnya. Bahkan menjadi shock therapy bagi para relawan. Dengan adanya relawan lokal ini bisa mendampingi pengamatan visual Merapi siang dan malam,” jelasnya Senin (11/1).

Sementara itu, Panewu Cangkringan Supramono menambahkan, hujan abu bisa cepat hilang karena adanya guyuran hujan. Adanya tiupan angin ke arah Glagaharjo menjadikan abu bisa sampai ke Kalitengah Lor, Kalitengah Kidul, Srunen, dan Singlar. “Hujan lebat juga mengakibatkan banjir lahar terpantau di hulu Kali Gendol pada Jumat (8/11) lalu,” katanya.

Berkaitan luncuran lava pijar yang kini cukup sering terjadi, di mana dari data BPPTKG ada 29 kali dengan jarak maksimal 900 meter, Suparmono mengimbau warga sekitar terus meningkatkan kewaspadaan. “Kami minta meningkatkan kewaspadaan meskipun arah luncuran lava pijar kebanyakan ke arah Kali Krasak,” ungkapnya.

Sebelumnya, banjir lahar hujan yang berisi material dari Gunung Merapi diketahui sudah mulai melewati Kali Boyong pada Rabu (6/1). Meski tak sampai ke daerah permukiman warga, kejadian itu sempat memutus saluran pipa air bersih milik pengelola air minum desa (Pemdes) Purwobinangun, Pakem.

Saat ini, kata Suparmono, sudah ada 300 warga Kalitengah Lor yang mengungsi ke Barak Pengungsian Kalurahan Glagaharjo. Bagi warga yang masih berada di rumah dan tidak memiliki kendaraan, Suparmono menyarankan lebih baik ikut mengungsi.

Sedangkan warga lain masih diperbolehkan berada di rumahnya. “Aktivitas warga juga masih seperti biasa. Warga tetap ada yang naik guna mencari rumput untuk hewan ternaknya,” lanjut Supramono.

Ia mengungkapkan, selama status Merapi siaga atau level III, sebagian warga Kalitengah Lor cukup sering mendengar suara gemuruh. Namun hal ini dianggap baik, karena erupsi Merapi terjadi sedikit demi sedikit, sehingga dimungkinan akan terjadi letusan eksplosif kecil. “Kalau di Kalitengah Lor dan Kalitengah Kidul suara gemuruh itu masih kedengaran,” katanya.

Terpisah, seorang warga Kalurahan Sumberrejo, Tempel, Supardi menuturkan lahar hujan masih belum nampak di aliran Kali Krasak, yang berada dekat dengan desanya. Sehingga dengan volume sungai yang ada saat ini, belum ada perubahan atau kenaikan signifikan. “Kondisi Kali Krasak masih aman terkendali, belum ada lonjakan apa pun,” katanya. (eno/laz)

Sleman