RADAR JOGJA –  MUI telah mengeluarkan fatwa halal yang menjamin vaksin Covid-19 buatan China tersebut terbebas dari unsur najis. Untuk itu, sebaiknya masyarakat tidak lagi mempermasalahkan halal-haram vaksin tersebut.

Ahli Virologi Universitas Gadjah Mada (UGM) Jogjakarta Mohamad Saifudin Hakim meminta masyarakat untuk tidak lagi mempersoalkan kehalalan vaksin Covid-19 Sinovac. “Masyarakat sebaiknya tidak lagi mempermasalahkan halal-haram karena MUI sudah menetapkan vaksin Sinovac halal dan suci. Jadi, seharusnya tidak perlu lagi ada gejolak untuk menolak vaksin,” katanya saat dihubungi Selasa (12/1).

Dosen Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FKKM) UGM ini mengakui gerakan penolakan vaksin bukanlah hal baru. Bahkan gerakan ini sudah ada sejak dulu. Senjata yang digunakan adalah tidak halalnya unsur di dalam vaksin.

Kelompok penolakan vaksin garis keras ini kerap muncul. Terutama saat momentum program vaksinasi oleh pemerintah. Tak hanya terhadap Sinovac tapi juga vaksin-vaksin lainnya.

“Ada kelompok anti vaksin garis keras yang mau diberi penjelasan sebaik apapun mereka akan menolak vaksinasi dengan bermacam alasan. Jika argumen terpatahkan, mereka membahas sisi keamanan, efektivitas, background anti-medis, dan lainnya. Akan selalu dijadikan alasan,” bebernya.

Disatu sisi, Hakim meminta agar penolak vaksin tidak dijauhi. Langkah utama adalah mengedukasi secara perlahan. Menjelaskan secara detil informasi mengenai vaksin. Termasuk manfaat setelah melakoni vaksinasi.

Penolakan vaksin, menurutnya tak semata sebagai idealis. Ada warga yang tak paham sepenuhnya tentang vaksin. Peran selanjutnya adalah edukasi secara intens oleh instansi terkait.

“Golongan ini menolak karena adanya miss-informasi yang diterima. Namun, mereka biasanya akan mau menerima vaksin saat diberikan penjelasan secara rasional terkait keamanan dan efektivitas vaksin,” ujarnya.

Walau begitu Hakim tak menampik atas potensi munculnya efek samping. Beberapa kondisi umum pasca vaksin diantaranya nyeri, bengkak, dan kemerahan di sekitar tempat suntikan. Lalu efek samping sistemik seperti timbulnya demam.

“Semua vaksin tidak ada yang 100 persen aman, pasti ada efek samping tertentu. Tetapi dibandingkan dengan manfaat yang diperoleh dari vaksinasi, manfaat tersebut jauh lebih besar daripada efek sampingnya,” katanya.(dwi/sky)

Sleman