RADAR JOGJA – Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) di Kabupaten Sleman berlangsung mulai Senin (11/1) hingga 25 Januari mendatang. PTKM dengan pembatasan jam operasional dagang maksimal pukul 19.00 ini membuat pedagang kuliner malam kelabakan. Bahkan tak sedikit yang memilih tak jualan.

Seperti halnya Dede Supriyadi alias Edo, 36. Pedagang kuliner malam di shelter Foodcourt Denggung berupa pecel lele ini mengaku memilih libur sementara. Adanya pembatasan jam operasi jualan berdampak pada jatah waktu berjualan shift malam. Karena hanya memiliki waktu tiga jam. Mulai pukul 16.00 sampai 19.00.

Hal ini dinilai terlalu singkat. “Tidak sepadan dengan lama persiapan jualan. Juga belum tentu ramai. Sebab, cuaca juga sering hujan,” terang Edo.
Belum ada rencana kapan dia berjualan kembali. Dia akan masih memantau pergerakan pengunjung. Jika dimungkinkan, buka kembali lebih awal. Berkoordinasi dengan pedagang shift siang. Mengatur ulang jadwal pergantian shift dagang.

Dia sempat berkoordinasi dengan sesama pedagang kuliner malam untuk mencari solusi gimana. Jika diizinkan buka lebih lama, pihaknya akan berjualan seperti biasa selama pandemi. Dengan maksimal berjualan pukul 22.00.

Kendati masih dalam pembahasan, dikatakan pedagang shift malam di atas pukul 19.00, pengunjung dilarang makan di tempat. Melainkan wajib dibungkus. “Biar tidak timbul kerumunan dan lebih aman. Tapi ya balik lagi ini kan kebijakan pemerintah. Daripada dibubarkan Satpol PP,” ujarnya.

Warga yang berdomisili di Plaosan, Tlogoadi, Mlati ini sementara mengandalkan pekerjaan lain untuk pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Yakni bekerja di tempat pencucian mobil di Jalan Gito Gati.

Disebutkan, selama pandemi dia mengalami penurunan omzet. Sebelumnya mampu meraup untung Rp 6 juta sampai Rp 7 juta per bulan. Saat pandemi menurun lebih dari 50 persen. Terlebih adanya pembatasan jam operasi ini. Pembeli menurun drastis. “Jika normal 7-8 kg beras habis. Sekarang 2 kg aja nggak abis,” keluhnya.

Senada disampaikan Ana, 47, penjual angkringan di Denggung. Dia mengatakan, PTKM berdampak pada kunjungan pembeli. “Sepi, penurunan hampir 50 persen pembeli hari ini (kemarin, Red),” ungkapnya.

Begitu juga pelayanan uji kir kendaraan di Kabupaten Sleman. Dinas Perhubungan (Dishub) Sleman telah membatasi jumlah peserta uji kir. Pelayanan dibatasi 50 persen dari biasanya 100 hingga 120 kendaraan roda empat. Pelayanan juga dikhususkan bagi plat nomor lokal Sleman.

Plt Kepala Dishub Sleman Arip Pramana menyebut, selama pembatasan ini pihaknya belum menerima pelayanan uji kir dari luar daerah. “Saat ini kita hanya membuka pendaftaran online per hari maksimal 60 kendaraan. Sementara jam pelayanan masih sesuai jam kerja,” terangnya.

Disperindag Aktifkan Gugus Tugas Pasar

ELANG KHARISMA DEWANGGA/RADAR JOGJA

Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sleman mulai mengaktifkan gugus tugas pasar menyusul pemberlakuan PTKM. Untuk mengkondisikan agar sirkulasi di lokasi pasar lancar.

Kepal Bidang Perdagangan Disperindag Sleman Nia Astuti menjelaskan, petugas gugus tugas terdiri atas petugas dan paguyuban pasar. Tugasnya melakukan sosialisasi guna memecah kerumunan di dalam pasar.

Gugus tugas, kata Nia, juga membentuk tim terpadu yang melibatkan Satpol PP, kepolisian, TNI dan instansi terkait. Tim itu akan melakukan monitoring dan penegakan. Selama PTKM, Disperindag juga menerjunkan tim untuk pemantauan di lapangan. “Tim internal dinas support info ke tim terpadu kabupaten. Mana saja yang melanggar untuk ditindaklanjuti,” jelas Nia Senin (11/1).

Sanksi bagi pelanggar, lanjut Nia, akan megacu pada aturan Perbup 37.1 Tahun 2020 tentang Penerapan Disiplin dan Penegakan Hukum Protokol Kesehatan sebagai Upaya Pencegahan Covid-19. “Denda sampai penutupan tempat usaha,” katanya.

Sementara itu, Kepala Disperindag Sleman Mae Rusmi menuturkan, akan ada enam pasar grosir yang jam operasionalnya tidak dibatasi. Hal ini dilakukan agar distribusi bahan makanan tidak terkendala. Pasar Gamping, Pasar Tempel, Pakem, Godean, Sleman, beroperasi sesuai kegiatan dan kondisi yang sudah berjalan. Sedangkan pasar rakyat lainnya hanya dibatasi jam operasionalnya hingga pukul 14.00.

Pihaknya juga meminga pedagang maupun pembeli untuk mengintensifkan pelaksanaan protokol kesehatan secara lebih ketat. Berupa menggunakan masker dengan baik dan benar, mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir atau hand sanitizer, menjaga jarak dan menghindari kerumunan.

Salah satu pedagang sayur di Pasar Gamping Irfan Taufik mangaku mengikuti apa yang dianjurkan pemerintah terkait PTKM. Meskipun di Pasar Gamping tidak memiliki pembatasan jam operasional, ia masih merasa takut datang ke pasar di masa pandemi seperti. Berjualan sejak pagi pukul 03.30 sampai 13.00. Jualan akan dilakukan secara online maupu offline. “Online jalan, offline jalan,” jelas Irfan. (mel/eno/laz)

Sleman