RADAR JOGJA – Jalur evakuasi bencana erupsi Gunung Merapi di Girikerto Turi, Kabupaten Sleman, sangat minim lampu penerangan di sepanjang jalur.

Lurah Girikerto Turi Sudibyo mengatakan ada beberapa catatan atas persiapan evakuasi bahaya erupsi gunung Merapi. Paling utama adalah minimnya lampu penerangan di sejumlah jalur evakuasi. Lalu masalah lain adalah belum siapnya barak pengungsian Tanggung di Dusun Glagahombo.

Terkait penerangan jalan, menurutnya sangatlah krusial. Hampir di tiga dusun utama, Dusun Tritis Kulon, Ngandong dan Sidorejo, ruas jalan minim penerangan. Kondisi ini, lanjutnya, dikhawatirkan akan mempersulit proses evakuasi.

“Tiga dusun ini berada di atas dan paling dekat dengan puncak Gunung Merapi. Pengalaman 2006 dan 2010 kalau malam paling rawan titik jalur evakuasi, masih gelap, dari balai desa ke utara ini minim penerangan. Sampai sekarang,” jelasnya ditemui di Kantor Kalurahan Girikerto Turi, Senin (11/1).

Sudibyo mengaku sudah mengajukan permohonan penambahan penerangan jalan raya ke Pemkab Sleman. Sayangnya hingga saat ini belum ada respon. Pengajuan terakhir adalah sekitar sepekan lalu.

Kondisi yang sama juga terjadi untuk barak Tanggung di Dusun Glagahombo. Berupa renovasi bangunan agar layak sebagai barak pengungsian. Bedanya pengajuan permohonan renovasi telah berlangsung sejak tahun lalu.

“Sudah ajukan ke Pemkab tapi belum ada jawaban, terakhir baru beberapa Minggu ini. Termasuk pembenahan barak itu kami ajukan lagi,” katanya.

Walau fungsi barak Tanggung hanya sebagai cadangan, namun Sudibyo menastikan tetaplah penting. Barak tersebut akan difungsikan apabila terjadi lonjakan pengungsi. Terutama di barak Nangsri dan tiga bangunan sekolah.

“Wilayahnya terpencil sehingga jarang tersentuh dan butuh perawatan. Kami usulkan perbaikan bersama lampu penerangan jalan,” ujarnya.(dwi/sky)

Sleman