RADAR JOGJA – Persiapan barak pengungsian juga dilakukan oleh pemerintah Kalurahan Wonokerto. Terbagi dalam 4 titik pengungsian. Selain barak pengungsian balai Kalurahan Wonokerto adapula SDN Nganggrong 1, SDN Nganggrong 2 dan Desa Wisata Kelor Bangunkerto.

Lurah Wonokerto Tomon Haryo Wirosobo memastikan kapasitas barak pengungsian memadai. Untuk SDN Nganggrong 1 dan SDN Nganggrong 2 masing-masing berkapasitas 30 orang. Lalu untuk Desa Wisata Kelor dapat menampung 60 kepala keluarga.

“Kalau yang desa wisata memanfaatkan penginapan atau home stay yang ada. Jadi yang tidak terpakai untuk wisatawan akan dihuni oleh pengungsi,” jelasnya ditemui di Kantor Kalurahan Wonokerto, Senin (11/1).

Haryo menambahkan, dari total titik pengungsian, baru barak balai Kalurahan yang memenuhi syarat. Terutama untuk penegakan protokol kesehatan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19). Berupa pemasangan bilik sekat kayu.

“Kalau total bilik sebenarnya ada 25 unit. Tapi setiap bilik ini bisa menampung 3 orang yang masih keluarga. Jadi totalnya bilik bisa menampung 75 orang,” tambahnya.

Berdasarkan catatan Pemerintah Kalurahan Wonokerto, wilayah ini terdapat 195 orang yang masuk kelompok rentan. Terdiri dari lansia, balita, usia anak, ibu hamil menyusui dan disabilitas. Kelompok ini nantinya yang menjadi prioritas utama dalam proses evakuasi.

Terkait proses evakuasi, Tomon menuturkan warga terlibat aktif. Berupa pengkondisian proses mobilisasi ke barak pengungsian. Khususnya bagi warga Dusun Tunggularum yang terdekat dari puncak Gunung Merapi.

“Nanti sistem evakuasinya mandiri, menggunakan moda transportasi yang dimiliki. Langkah ini sebagai wujud penerapan prokes Covid-19. Akan lebih aman jika yang melakukan evakuasi orang yang sudah kenal betul,” ujarnya.

Wilayah Dusun Tunggularum, lanjutnya, menjadi prioritas utama. Setidaknya ada 627 jiwa di wilayah tersebut. Selain itu jarak dengan Puncak Merapi hanya 6,9 kilometer. Kawasan ini juga ditetapkan sebagai kawasan rawan bencana (KRB) III oleh BPPTKG.

“Wilayahnya berhadapan langsung dengan Kali Krasak. Meski KRB III tapi memang belum masuk zona bahaya Status Siaga. Jadi memang belum diwajibkan mengungsi untuk saat ini,” katanya. (dwi/sky)

Sleman