RADAR JOGJA – Tinggal di kawasan lereng Gunung Merapi membuat warga di Dusun Turgo RT 3, Purwobinangun, Pakem, Sleman kian akrab dengan suara gemuruh. Sebagian warga pun sudah melengkapi diri dengan HT untuk mengecek informasi.

Suara gemuruh Gunung Merapi pada Selasa malam (5/1) terdengar menggelegar. Closed Circuit Television (CCTV) sisi barat daya Gunung Merapi maupun kamera thermal di stasiun Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Panguk merekam rona merah lava pijar keluar dari puncak Merapi. Meski masih melakukan aktivitas biasa, warga Dusun Turgo mulai meningkatkan kewaspadaan.
“Hampir semalaman gemuruh terdengar. Ternyata disertai luapan lava pijar,” ungkap warga Turgo Menot Tohari Rabu (6/1).

Pria 45 tahun itu menyebut, suara gemuruh itu layaknya suara awan yang menggelegar. Bahkan, terakhir dia dengar kemarin pagi (6/1) sekitar pukul 05.00. Meski sedikit samar, gemuruh ini baru pertama mengawali tahun ini. Sebelum-sebelumnya juga pernah terdengar, namun cenderung lebih terdengar di RT berbeda, di sisi selatan dan utara dusun. Yang berbatasan dengan Kali Boyong dan Kali Krasak.

Menurut dia, suara gemuruh biasa terjadi. Masyarakat sekitar sudah hafal. Menyikapinya, warga lebih meningkatkan kewaspadaan. Berdasarkan pengalaman erupsi di sebelumnya pada 2010 dan 2006 dusun yang berada di kaki Bukit Turgo tersebut cenderung aman. “Tidak terdampak material. Hanya abu vulkanik saja,” ucapnya.

Warga lainnya, Eko Paryanto mengatakan, warga sekitar mengaku, siap mengungsi jika sewaktu-waktu mendapat instruksi dari BPTTKG Jogjakarta. Dokumen dan surat-surat penting sudah dia kemas dalam tas khusus sesuai arahan BPBD Sleman untuk meningkatkan kesiapsiagaan. “Jadi jika statusnya naik, tinggal dibawa aja,” katanya.

Di wilayah tersebut sudah di pasang dua early warning system (EWS). Satu berupa kamera pemantau aktivitas Merapi. Satu lagi alarm awan panas. Penjaga EWS yang juga Staf Kesiapsiagaan Mitigasi BPBD Sleman Musdiantoro menambahkan, Dusun Turgo berada di KRB III Radius 5,8 km dari puncak merapi. Wilayah ini terdiri dari empat RT dan berjumlah 180-an kepala keluarga.

Untuk kesiapsiagaan bencana, dia menyebut, ronda malam dimasifkan. Setiap RT membentuk tim evakuasi. Masing-masing beranggotakan 14 orang. Bertugas memantau di setiap pos jaga RT dan di Pos Pemantuan Merapi, sekitar.”Komunikasi melalui HT 24 jam. Kebetulan 80 persen warga punya HT,” ungkapnya.

Selain EWS, sesuai kesepakatan apabila aktivitas merapi mengalami peningkatan, maka peringatannya dengan memukul kentongan dan membunyikan klakson motor. Mereka kemudian harus segera menuju tempat pengungsian yang berjarak 12 km dari dusunnya. Yakni di Barak Pengungsian Purwobinagun. “Kalau ternak relokasinya di Sudimoro,” katanya. (pra/mel)

Sleman