RADAR JOGJA – Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman tengah mempersiapkan shelter khusus untuk Ibu bersalin positif Covid-19. Rencananya, shelter akan berada di Sleman Barat dan dibuat setingkat rumah sakit.

Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, shelter rencananya akan memanfaatkan rumah sakit swasta yang sudah tidak beroperasi setahun, akibat kendala pada sumber daya manusia (SDM). Tempat tersebut dipilih, karena memiliki empat ruang persalinan dan ketersediaan tempat tidur perawatan hingga 30 buah.

Nantinya, kata Joko, shelter khusus ibu bersalin positif Covid-19 dipersiapkan setara dengan tingkat rumah sakit. Mulai dengan mempersiapkan SDM, Dinkes Sleman tengah merekrut dokter umun, perawat, bidan, sanitarian, ahli gizi, analis laboratorium hingga satpam.

Ditargetkan, SDM yang dibutuhkan akan segera terpenuhi dan rumah sakit lapangan bisa beroperasi pada 1 Februari mendatang. “Kami akan melakukan rekrutmen dan menggaji relawan, kami butuh 4 dokter, 10 perawat, dan 10 bidan. Sama seperti rumah sakit,” kata Joko Selasa (5/1).

Tempat persalinan bagi pasien positif Covid-19, kata Joko, dinilai sangat mendesak. Hal ini karena tidak semua rumah sakit memiliki kemampuan untuk ketersediaan tempat persalinan. Seperti di RSUD Sleman yang memiliki 5 bangsal, namun hanya satu yang digunakan untuk persalinan Covid-19. Begitu pula di RSUD Prambanan dan RS Panti Rini yang juga hanya memiliki satu tempat bersalin untuk Covid-19.

Selain itu, adanya rumah sakit lapangan, akan digunakan untuk ibu bersalin yang akan melakukan persalinan tanpa penyulit (normal). Tujuannya adalah untuk mengurangi paparan terhadap tenaga kesehatan yang membatu persalinan. Mengingat persalinan normal bisa menghabiskan waktu yang cukup lama. ”Memang di Sleman tidak semua rumah sakit dan klinik bisa melayani persalinan normal (positif Covid-19). Kalau rumah sakit besar kami wajibkan untuk bisa melayani,” ungkapnya

Penyediaan tempat dilakukan guna mengurangi resiko kematian ibu dan anak. Tidak hanya menyediakan shelter di Sleman Barat, Dinkes Sleman saat ini juga mengupayakan rumah sakit lain agar pasien Covid-19 yang akan bersalin bisa terlayani. “RSKIA Sadewa menyanggupi dan ada lima tempat persalinan, RS Queen Latifa ada satu, RS At-Turots juga cuma ada satu, RSU Panti Baktiningsih juga satu,” kata Joko.

Dari pemeriksaan yang dilakukan Dinkes Sleman pada akhir Desember, sudah tercatat kurang lebih 200 ibu hamil yang akan melakukan persalinan di bulan Januari, Februari dan Maret. Hanya saja, ada 43 ibu hamil yang tercatat positif Covid-19 dan diperkirakan akan melahirkan pada Januari. ”Jumlah tersebut dimungkinkan bisa bertambah saat pemeriksaan dilakukan kembali pada Januari,” jelasnya. (eno/bah)

Sleman