RADAR JOGJA – Perkembangan situasi keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas) di wilayah hukum Kepolisian Daerah (Polda) DIJ hingga akhir 2020 secara kualitas masih terkendali dan kondusif. Kendati begitu, sejumlah kasus mengalami peningkatkan.

Polda DIJ mencatat, angka kriminalitas tahun ini mengalami peningkatan 35,94 persen. Dari 3.453 kasus pada 2019, menjadi 4.694 kasus di tahun ini.
Kapolda DIJ Iren Pol Asep Suhendar menyebut, angka kriminalitas terbanyak yakni, kasus narkoba. Jumlahnya sebanyak 600 kasus. Dibandingkan tahun lalu angkanya meningkat 86 kasus. Penipuan atau perbuatan curang menduduki posisi nomor dua, dengan total 518 kasus. Lalu dilanjutkan dengan pencurian biasa 482 kasus dan penggelapan atau fidusia. Mencapai 364 kasus.

“Meski angka penipuan tinggi, jika dibandingkan tahun lalu justru turun sebanyak 3,36 persen,” terang Asep saat mengelar jumpa pers di Mapolda DIJ, Selasa (29/12).

Sedangkan untuk kasus pencurian motor (curanmor) roda dua, jumlahnya turun 4,05 persen. Asep memprediksi angka curanmor menurun lantaran dampak dari pandemi. Dampak pemberlakuan di rumah saja, selama empat bulan sejak awal pandemi Covid-19. ”Selain itu, faktor minimnya kesempatan mencuri sebab situasi yang terus terpantau,” jelasnya.

Pada kasus narkoba, sebutnya, mayoritas penggunanya laki-laki sebanyak 654. Sementara perempuan ada 25 orang. Kasus narkoba didominasi pemakai, mencapai 434 orang. Sedangkan pengedar sebanyak 245.

Dijelaskan, mayoritas pengguna obat-obatan yang tergolong daftar G ini remaja. Berusia 20 sampai 24 tahu, sebanyak 251 kasus. ”Seluruhnya warga Indonesia,” terangnya.

Asep menjelaskan, meningkatnya angka kasus narkoba bukan berarti jumlah kasus di lapangan berkurang. Namun, faktor agresivitas kepolisian dalam melakukan pengawasan semakin gencar. Patroli dilakukan secara intensif baik jajaran polsek maupun polres/polresta.

Sementara untuk kasus kecelakaan lalu lintas, dalam kurun waktu satu tahun ini juga mengalami penurunan dari tahun sebelumnya. Kasusnya menurun 1.385 kasus. Dari 5.944 pada 2019, kini menjadi 4.559 kasus. Asep menilai, kesadaran masyarakat taat berlalu lintas mulai tinggi. Sehingga angka kecelakaan berhasil ditekan. Hal itu juga tampak pada pelanggaran lalu lintas yang menurun singnifikan. ”Dari 176.406 kejadian menjadi 75.015,” terangnya.

Kepala Bidang Humas Polda DIJ Kombes Pol Yulianto menambahkan, berdasarkan tingkat kerawanan, Polres Sleman kembali menduduki peringkat pertama penanganan kasus. Dengan total tindak kejahatan mencapai 1.522 kasus. Kemudian disusul Resor Bantul, 851 kasus. Polresta Jogjakarta mencapai 587 kasus. Kulonprogo 523 kasus. “Posisi terakhir Resor Gunungkidul. Angkanya 213 kasus,” bebernya.

Dijelaskan, tindakan preventif dan represif akan terus digencarkan, agar tercipta keamanan dan kenyamanan masyarakat. Termasuk pantauan prokes dalam rangka menekan persebaran virus korona di tengah masyarakat. (mel/pra)

Sleman