RADAR JOGJA – Alat pendeteksi Covid-19 GeNose besutan para ahli Universitas Gadjah Mada (UGM) ini diklaim menunjukkan sensitivitas 92 persen. Dalam proses screening virus korona. Klaim tersebut datang dari dua penelitian yang dilakukan yaitu uji validitas dan uji klinis.

HERY KURNIAWAN/MEITIKA C.LANTIVA, SLEMAN, Radar Jogja

Jika selama ini uji Covid-19 hanya dikenal dengan rapid test maupun swab test, UGM menawarkan metode yang berbeda. Dengan hembusan. Bahkan hasilnya lebih cepat diketahui. Biayanya pun lebih murah. Dengan GeNose.

Dian K Nurputra dari Tim GeNose UGM mengatakan, GeNose bekerja mendeteksi Volatile Organic Compound (VOC) yang terbentuk karena adanya infeksi Covid-19 yang keluar bersama nafas melalui embusan nafas ke dalam kantong khusus. Selanjutnya diidentifikasi melalui sensor-sensor yang kemudian datanya akan diolah dengan bantuan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence).

Dalam uji validasi yang dilakukan, ada sebanyak 615 sampel nafas, dan 382 nafas di antaranya disebabkan berpola positif Covid-19. Uji validitas ini dilakukan di RS Bhayangkara dan RSKLC. “Uji validasi sebelumnya dilakukan untuk memetakan bagaimana pola yang jelas (Covid-19), dan bagaimana pola ke orang-orang yang sakit tapi non Covid-19,” kata Dian Senin (28/12).

Menurut Dian, hasil uji validasi tersebut diteliti lebih lanjut dengan uji klinik dan komparasi langsung dengan tes Virus Corona yang selama ini menjadi pedoman pasti untuk tes Covid-19, yakni tes PCR. Uji klinis dilakukan di delapan rumah sakit.

Adapun yang diuji langsung adalah semua pasien dengan suspek Covid-19 yaitu yang bergejala yang tidak bergejala namun kontak erat dengan pasien terkonfirmasi positif, yang datang memeriksakan diri ke RS untuk diswab PCR. “Pada saat itu yang kami pakai setting rumah sakit, dengan cara cross sectional, triple blinded, supaya tidak ada bias dan multicenter, sebaran karakteristik dari pasiennya menjadi lebih banyak,” ungkapnya.

Kemudian, Dian juga menjelaskan timnya bisa mendapatkan 1.476 subjek, tambahan dari Kemenkes juga ada tambahan 523 lagi. “Dari subjek tersebut sensitivitasnya antara 89-92 persen kemudian spesifitasnya 95-96 persen,” tuturnya.

Ketua tim pengembang GeNose, Prof. Kuwat Triyana mengungkapkan, izin edar GeNose turun dari Kementrian Kesehatan (kemenkes) pada Kamis (24/12) lalu. Izin edar tersebut tertuang pada KEMENKES RI AKD 20401022883.

Saat ini, sudah ada 100 unit batch pertama yang akan dilepas, pihaknya berharap dapat melakukan hingga 120 tes per alat. Atau 12 ribu orang sehari. Angka tersebut berdasarkan estimasi bahwa setiap tes membutuhkan tiga menit. “Termasuk pengambilan nafas. Sehingga dalam satu jam dapat mentes 20 orang. Dan bila efektif, alat bekerja selama enam jam,” terangnya.

Diharapkan, distribusi GeNose C19 tepat sasaran. Yakni, menyasar pelayanan umum seperti, bandara, stasiun kereta, rumah sakit dan tempat keramaian lainnya. Termasuk ke BNPB yang dapat mobile mendekati suspect Covid-19. Kendati begitu, pengadaan GeNose C19 tidak dimungkinkan untuk keperluan pribadi.

Nah, setelah mendapatkan izin edar, GeNose C19 akan segera diproduksi massal. Pihaknya berharap, bila jumlahnya ada seribu unit, maka akan mampu mentes sebanyak 120 ribu orang dalam sehari. Kuwat menerangkan, jika jumlahnya mencapai 10 ribu unit, itu bakal sesuai target di akhir bulan Februari 2021, maka Indonesia akan menunjukkan jumlah tes Covid-19 per hari terbanyak di dunia. Yakni 1,2 juta orang per hari.

Harapan itu bukan semata-mata perihal angka. Namun lebih pada kemampun tes, diharapkan alat tersebut dapat mendeteksi orang-orang terinfeksi Covid-19 tanpa gejala (OTG). Sehingga segera mendapatkan tindakan isolasi ataupun perawatan. “Dengan begitu rantai penyebaran Covid-19 dapat segera terputus,” ucapnya.

Dijelaskan, biaya tes melalui GeNose C19 cukup terjangkau. Sekitar Rp15 ribu hingga Rp 25 ribu. Hasil deteksi tes pun tak memakan waktu lama. Hanya sekitar dia menit. Tidak memerlukan reagen atau bahan kimia lainnya. Pengambilan sampel tes dengan hembusan nafas juga dinilai lebih nyaman dibanding swab test.

Sementara itu, Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional ( Menristek/Kepala BRIN) Bambang Brodjonegoro mengapresiasi dua inovasi anak bangsa. Selain GeNose dari UGM, ada pula CePAD karya Universitas Padjajaran.

Keduanya ialah inovasi alat screening keberadaan Covid-19 pada seseorang. “Kami ingin memperkenalkan dua lagi inovasi anak bangsa yang mempunyai peran sangat penting dalam penanganan Covid-19,” ujar Menristek pada Konferensi Pers Menristek Tentang Perkembangan GeNose dan Rapid Test Antigen CePAD secara daring, Senin (28/12). (pra)

Sleman