RADAR JOGJA –  Belanja di pasar tradisional Kolombo, Kalurahan Condongcatur, Depok sekarang lebih mudah. Sebab, pembeli tak harus datang ke pasar langsung. Cukup pakai aplikasi pasarkolombo.id. belanja online rasa pasar.

Aplikasi ini merupakan inovasi pemerintah kalurahan bekerjasama dengan Mubyarto Institute dan di dukung oleh Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Universitas Gadjah Mada (UGM). Aplikasi ini diluncurkan, Sabtu (26/12). Diharapkan, pembeli dapat belanja dengan aman dan nyaman di tengah pandemi Covid-19 ini.

Lurah Desa Condongcatur Reno Candra Sangaji mengatakan, aplikasi ini mencangkup seluruh pedagang pasar sekitar 450 pedang los dan kios. Aplikasi ini menawarkan berbagai kebutuhan pokok sehari-hari. Seperti bumbu masak, snack, sayur, ikan dan ayam segar, juga produk kebutuhan rumah tangga lainnya, seperti sapu, pakaian dan lain-lain.

Penggunaan aplikasi ini mudah layaknya belanja melalui aplikasi online lainnya. Kendati begitu, wilayah edarnya masih terbatas. Selain kalurahan, sasaran lainnya di Kapanewon Depok, Ngaklik dan bebera kalurahan sekitarnya. Pembayarannya pun masih dilakukan secara tunai, setelah barang sampai sehari setelah pemesanan.

”Pasar ini dikelola Kalurahan. Kamifokuskan dulu warga sekitar, baru merambah wilayah lebih luas,” ungkap Reno saat peluncuran pasarkolombo.id di lokasi, Sabtu (26/12).

Dijelaskan aplikasi tersebut sementara ini menyasar lebih dari 2 ribu orang warga Condongcatur. Dia berharap, melalui aplikasi ini, penjual bisa lebih lama beroperasi. Tidak hanya sampai pukul 13.00 ataupun pukul 14.00. Transaksi jual beli tidak harus saat berada di pasar. Tetapi juga saat di rumah. ”Ke depan, aplikasi ini akan terus di update agar layanannya semakin optimal,” jelasnya.

Tim Ahli Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan UGM Hempri Suyatna menyebut, pengembangan aplikasi ini berangkat dari pandemi. Untuk meminimalisir transaksi langsung dan kerumunan yang dapat memicu persebaran korona. Ini juga bagian dari modernisasi pasar. Agar pasar rakyat bisa tetap eksis dan mengikuti perkembangan zaman di tengah gempuran pasar-pasar modern dan pasar online yang telah menggurita.

”Kalo itu diteruskan, ya omset pedagang pasar rakyat akan hilang. Ini jadi solusi,” katanya.

Menurutnya, kelebihan dari aplikasi ini produk yang dijual lebih lengkap dan variatif. Harga standar pasar rakyat. Namun tetap dikenai ongkos pengiriman (ongkir). ”Aplikasi ini akan kelola oleh paguyuban pasar kolombo. Ke depan, keterlibatan SDM diharapkan lebih meluas,” jelasnya.

Sekretaris Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Sleman Haris Martapa mengapresi atas inisiatif sekaligus inovasi dari aplikasi tersebut. Diharapkan dapat menumbuhkan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat di tengah pandemi. ”Pasar yang di kelola kalurahan ini sejalan dengan program pemerintah menggiring pasar tradisional sekelas dengan pasar modern,” ungkapnya.

Sementara itu, selama pandemi ini pihaknya juga telah meluncurkan Layanan pasar online ing Sleman (lopis.id). Diikuti 15 pasar tradisional dari total 42 pasar yang dikelola Pemerintah Sleman dan 36 pasar desa dikelola Kalurahan. (mel/bah)

Sleman