RADAR JOGJA – Permintaan ikan tawar di kelompok pembudidaya ikan Sumberadi (Kempis) Dusun Glebak, Burikan, Sumberadi, Mlati, Sleman mulai normal, dua bulan terakhir ini. Setelah sempat menyusut selama pandemi. Hal ini karena, mulai meningkatnya permintaan di sejumlah rumah makan.

Pengurus Kempis Titus Suranto mengatakan, selama pandemi Covid-19, ada penurunan permintaan ikan. Penurunan berkisar 15 persen. Itu lantaran pihaknya membatasi pengiriman di luar Jogja-Sleman. Sehingga permintaan hanya melayani di lokal saja.

Dikatakan, penurunan terbanyak pada ikan konsumsi, mulai Maret. Sebab, selama pandemi banyak rumah makan yang tutup. Namun dua bulan terakhir permintaan bibit ikan konsumsi maupun tawar cenderung seimbang. “Paling tidak Rp 5 juta hingga Rp 6 juta hari biasa. Hari libur kadang-kadang sampai Rp 15 juta,” ungkap Suranto di lokasi penjualan Ikan Kempis, Senin (20/12).

Artinya omzet per bulan dari penjualan ikan kelompok tersebut hampir mencapai rata-rata omset sebelum pandemi. Yakni, Rp 240 juta. Dari total anggota kelompok 28 pembudidaya ikan. Adapun jenis ikan tersebut, antara lain, ikan lele, nila, bawal, emas, tombro hitam dan warna, gurami, tawes dan grasscarp. “Permintaan paling banyak nila, gurami, lele dan bawal,” ucapnya.

Disebutkan, di penghujung tahun ini, tak ada kenaikan harga jual ikan tawar. Harganya masih normal. Ikan konsumsi, harga lele Rp 22 ribu per kilogram (kg). Tawes Rp 30 ribu per kg, nila Rp 30 ribu hingga Rp 35 ribu tergantung ukuran dan isi per kg-nya. Ikan bawal Rp 20 ribu per kg, gurami Rp 45 ribu per kg. Ikan tombro hitam dan warna masing-masing Rp 45 ribu per kg dan Rp 50 ribu per kg. “Grasscarp Rp 28 ribu per kg. Dan ikan bibit rata-rata Rp 35 ribu sekitar 100 ekor,” lanjutnya.

Suprihono, 57, anggota Kempis mengaku, dalam satu hari dia mampu menyetor ikan hingga Rp 15 kg di tempat penjualan ikan Kempis. Baik ikan layak konsumsi maupun bibit. Dikatakan, budidaya di wilayahnya sangat berpotensif. Apalagi di musim hujan seperti ini. “Airnya melimpah dan cocok untuk memelihara ikan,” katanya. Namun, jika memasuki musim kemarau. Tak sedikit kolam menganggur. Banyak juga yang beralih profesi. “Seperti saya, biasa ikut proyek,” lanjutnya. (mel/pra)

Sleman