RADAR JOGJA – Pilur Sleman 2020 secara e-voting telah dilaksanakan serentak di 1.102 TPS Minggu (20/12). Dibandingkan dengan pencoblosan manual pada Pilkada, Pilur secara e-voting akan lebih cepat memberikan hasil pehitungan suara.

“Lebih cepat 1:3 dibanding cara sebelumnya (Pilkada),” jelas Bupati Sleman Sri Purnomo saat ditemui di TPS 26 Karangmalang, Caturtunggal, Depok, Sleman. SP menjelaskan, penggunaan Pemilihan Lurah (Pilur) sistem e-voting adalah untuk pertama kalinya di wilayah DIJ.

Untuk akurasinya, lanjut SP, dipastikan juga akurat. Hasil yang ada, tidak bisa dimanipulasi. Mengingat, warga yang datang hanya bisa sekali memberikan hak suaranya. Serta warga yang tidak bisa memilih, tidak bisa diwakilkan. Untuk hasilnya, pemilihan secara elektronik tersebut bisa langsung diketahui kurang lebih 15 menit setelah ditutupnya pemilihan.

Ketua Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) 26 Karangmalang Bagas Priyanto mengaku penggunaan sistem e-voting lebih memudahkan, praktis dan cepat dibandingkan Pilkada. Meskipun demikian, masih ada kecurangan yang bisa terjadi saat Pilur berlangsung. Seperti adanya simpatisan yang ada di wilayah TPS yang akan mebisiki warga untuk memilih salah satu calon Lurah. “Namun manipulasi hasil suara sudah tidak mungkin,” ungkap Bagas.

Terbukti, hasil suara yang didapatkan setelah mulai dihitung pada pukul 15.00 hanya sekitar 11 menit. Total dari 436 pemilih, hanya ada 278 pemilih dan seluruhnya suara sah. Hanya ada satu suara kosong, karena saat pemilihan masih ada tombol suara kosong yang bisa dipilih warga. “Jadi output-nya juga suara kosong,” kata Bagas.

Seperti halnya di TPS 11 Dusun Kowanan, Kalurahan Sidoangung, kapanewon, Godean Sleman. Murdi, 73, pemilih dari TPS tersebut mengaku, tak kesulitan menggunakan alat e-voting meski baru pertama kali. Bahkan, dia tak sempat ikut sosialisasi sebelumya. ”Lancar saja. Jadi tinggal mejet, trus pilih ya,” ungkap Murdi.

Setelah memilih calon, kemudian tekan ya dan otomatis keluar slip stuk bukti memilih dari mesin cetak. Lalu bukti tersebut dilipat dan dimasukkan ke dalam kotak audit.

Sama halnya pendapat Yunitasari, 26, pemilih dari TPS dusun tersebut. Menurutnya, model pemilihan menggunakan e-voting ini lebih aman, efektif dan akurat. Aplikasinya pun mudah diikuti. Layaknya menggunakan handphone. “Jadi enggak bingung. Kayak internet, pake HP,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Budiharjo menambahkan, kemungkinan adanya manipulasi dalam pelaksanaan Pilur secara e-voting sangatlah kecil. Hasil yang keluar setelah pelaksanaan, tidak akan diverifikasi ulang di tingkat Kabupaten. Namun jika nanti ada pihak yang tidak setuju dengan hasil yang ada, maka slip suara yang ada di kotak suara akan dibuka untuk mencocokkan. “Jika tidak ada yang protes dan keberatan, maka kotak sura tidak akan dibuka,” kata Budi.

Disinggung soal tingkat partisipasi warga Sleman, Budiharjo berharap bisa di atas Pilkada. Bisa mencapai 75-80 persen. Hal ini karena pemilihan di tingkat Kalurahan, membuat para calon Lurah yang sudah dekat dengan warga setempat.

Karena masih pandemi Covid-19, proses pemungutan tetap menerapkan protokol kesehatan. Pemilih wajib mengenakan masker, cuci tangan, ukur suhu badan, jaga jarak, juga mengenakan sarung tangan plastik. Sebelum memilih, undangan pendaftaran lebih dulu ditukar Kartu pilih, selanjutnya petugas memasukkan kartu tersebut ke mesin pembaca yang secara integratif terbaca pada layar monitor layaknya tablet itu.

Selanjutnya, 49 Lurah yang terpilih dari 157 calon tersebut akan dilantik pada 26 Desember mendatang. SP juga mengimbau, agar Lurah terpilih tidak perlu merayakan kemenangan dengan berlebihan seperti melakukan konvoi. Mengingat saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19. “Sedangkan bagi yang belum berhasil, bisa menerima kekalahan dan mendukung yang menang,” harapnya. (eno/mel/pra)

Sleman