RADAR JOGJA – Aktivitas Gunung Merapi cenderung mengalami penurunan dalam sepekan terakhir. Kendati demikian, aktivitas gunung api ini secara umum masih ada di level tinggi. Hal itu disampaikan Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida dalam jumpa pers mingguan perkembangan Merapi Jumat (18/12) petang.

Dalam kesempatan itu, Hanik juga menjelaskan bahwa data morfologi Merapi menunjukkan belum ada kubah lava baru pada gunung yang berada di perbatasan Jateng-DIJ ini. Kemudian teramati perubahan morfologi dinding kawah. “Itu disebabkan adanya proses runtuhan atau guguran yang terjadi,” jelas Hanik.

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta Hanik Humaida

Lebih lanjut dikatakan, sampai saat ini masih terus terjadi pengangkatan di permukaan kawah Merapi. Masih ada rekahan-rekahan di dalam dan tebing, baik yang lama maupun baru. Karena proses pembentukan rekahan-rekahan itu terus terjadi setiap hari.

Salah satu yang menarik adalah penurunan laju magma menuju puncak Merapi. Jika di pekan lalu laju magma mencapai 12 cm, pada pekan ini hanya 9 cm saja. Kendati demikian, BPPTKG menyebut laju seperti itu masih tergolong tinggi. Hal itu yang menyebabkan status Merapi masih siaga atau level III.
Hanik menjelaskan beberapa faktor yang menyebabkan hal itu. Salah satunya dorongan gas dari bawah yang mungkin sedang menurun. “Intinya kurang kuatnya dorongan untuk magma itu,” tandasnya.

Sementara itu Hanik juga memperingatkan bahwa wilayah barat dan barat laut Gunung Merapi masih menjadi wilayah berbahaya dari dampak erupsi. Itu berdasarkan data deformasi dan perubahan morfologi di lereng dan puncak gunung yang memiliki tinggi 2.930 meter di atas permukaan laut itu. (kur/laz)

Sleman