RADAR JOGJA – Gangguan sistem saraf pusat atau yang dikenal dengan delirium, disebut-sebut menjadi salah satu gejala baru Covid-19. Penyakit ini diklaim banyak ditemukan pada pasien Covid-19 pada lansia.

Dokter Spesialis Saraf Rumah Sakit Akademik (RSA) UGM, Fajar Maskuri menjelaskan, delirium adalah gangguan sistim saraf pusat yang berupa gangguan kognitif dan berkurangnya kesadaran terhadap lingkungan. Kondisi ini terjadi karena disfungsi otak pada beberapa pasien Covid-19.

Gejalanya, ditandai dengan kebingungan pada pasien Covid-19, disorientasi, bicara menggigau, sulit konsentrasi, gelisah, serta halusinasi. Gejala tersebut, muncul secara fluktuatif. Biasanya berkembang cepat dalam beberapa jam atau beberapa hari.

Dijelaskan, penyebab dari delirium pada pasien Covid-19 karena multifaktor. Salah satunya adalah kurangnya oksigen dalam tubuh atau hipoksia. Berikutnya, adanya penyakit sistemik dan inflamasi sistemik, gangguan sistem pembekuan darah yang terlalu aktif (koagulopati), dan infeksi virus Covid-19 langsung ke saraf.

“Mekanisme autoimun pasca infeksi dan endoteliitis turut berpengaruh terhadap munculnya delirium pada pasien. Namun dengan intensitas lebih jarang dibandingkan mekanisme yang lain,” kata Fajar melalui keterangan tertulis Kamis (17/12).

Menurutnya, delirium dialami 13-19 persen pasien Covid-19. Manifestasi gangguan neurologis yang sering terjadi pada pasien Covid-19 yakni derilium mencapai 31,8 persen. Persentase paling tinggi adalah nyeri otot yakni 44,8 persen, nyeri kepala 37,7 persen dan dizziness sebesar 29,7 persen. “Gangguan neurologis dapat terjadi pada sekitar 42,2 persen pasien Covid-19,” ungkapnya.
Delirium, rentan terjadi pada orang lanjut usia atau di atas 65 tahun. Terutama pada lansia yang lebih lemah. Terdapat beberapa kondisi lain yang menyerupai delirium Covid-19 pada lansia.

Meskipun banyak dijumpai pada lansia, tetapi bukan berarti pasien dengan usia muda tidak bisa terkena delirium. Ditemukannya delirium pada pasien Covid-19 usia muda menandakan adanya ensefalopati akibat gangguan pernafasan yang berat.

Selain itu, delirium juga dapat terjadi pada pasien-pasien yang mendapat obat-obatan psikotropika karena kondisi penyakit tertentu. Oleh sebab itu, peran keluarga sangat penting untuk memberikan informasi tentang riwayat penyakit dan obat-obatan yang dikonsumsi pasien kepada petugas medis saat pasien dirawat.

Delirium pada pasien Covid-19 disebutkan Fajar berhubungan dengan kegagalan sistem multi-organ. Karenanya pasien Covid-19 dengan gejala berat berisiko empat kali lipat mengalami delirium. “Delirium pada Covid-19 berhubungan dengan pemanjangan masa rawat inap (length of stay) hingga 3x lipat,” ucapnya.

Dalam jangka panjang delirium berhubungan dengan outcome fungsional yang lebih buruk pada pasien-pasien Covid-19 yang dirawat. Sebab, pasien membutuhkan pemantauan jangka panjang untuk menilai beban akibat delirium yang sebenarnya.

Sementara pada beberapa pasien Covid-19 dengan gejala ringan yang tidak membutuhkan rawat inap dilaporkan mengalami gangguan konsentrasi yang terus-menerus dan penurunan memori jangka pendek. ”Oleh sebab itu evaluasi sistem saraf dan kognitif menjadi penting untuk menegakkan diagnosis lebih lanjut serta untuk menentukan terapi rehabilitasi yang dibutuhkan pasien,” jelasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo menjelaskan, delirium bisa muncul pada pasien Covid-19 dengan gejala berat dan bukan hanya pada lansia. Hanya saja, dengan kondisi saat ini di mana banyak pasien asimtomatik (OTG) dirawat tidak di rumah sakit, maka delirium tak kalah membutuhkan perhatian. ”Hanya bedanya, orang dengan gejala dirawat di rumah sakit yang memiliki gejala delirium akan mendapat pengawasan dan penanganan,” katanya. (eno/bah)

Sleman