RADAR JOGJA – Proyek jalan tol Jogja-Solo semakin dekat untuk terealisasi. Namun terkait ganti rugi tanah terdampak, masih jadi persoalan. Warga enggan menjual murah tanahnya. Seperti halnya di Dusun Ketingan, Tirtoadi, Mlati, Sleman, warga menghendaki empat kali lipat harga tanah.

“Ya, kalau hanya dibeli harga sekarang, itu namanya ganti rugi. Kami nggak mau,” ungkap Suseno, warga Kentingan saat berada di Kantor Kalurahan Tirtoadi, Selasa (15/12).

Dia menginginkan ganti untung. Sebab, jika hanya dibeli dengan harga sekarang Rp 1,5 juta per meter itu, tidak akan cukup menjangkau harga tanah yang kian melambung. Terlebih harga tanah mulai naik di wilayah Sleman Barat. Toh ganti rugi juga tidak segera dibayarkan. Jika harus menunggu, tanah sudah naik. “Bukanya warga untung karena jalan tol. Justru dirugikan,” ujarnya.

Seno mengaku lahan pertanian milik keluarganya harus tergusur lantaran pembangunan proyek tol ini. Ada empat bidang tanah berlokasi di dua kalurahan. Yakni di Kalurahan Tlogoadi dan Tirtoadi. Kini lahan milik keluarganya telah di pasangi patok oleh petugas. “Pasang patok sudah, tapi belum diukur tim aprasial,” katanya. Pemasangan patok dilakukan November lalu.

Lahan pertanian milik keluarganya itu akan dilintasi simpang susun (junction toll) mengarah ke Yogyakarta International Airport (YIA) Kulonprogo, Bawen dan Solo. Jalan tol juga akan menyapu sebagian lahan di Dusun Kaweden, Gombang, dan Rajek Lor di Kelurahan Tirtoadi. Dengan luasan 129.688 meter persegi atau sekitar 277 bidang.

Dia meminta ganti rugi tiga sampai empat kali. Pertama, menutup harga tanah jika ke depannya terjadi lonjakan tanah. Kedua, kerugian ekonomis. Karena jika lokasi pertanian semakin jauh membutuhkan bahan bakar kendaraan yang jauh lebih tinggi.

Kemudian juga nilai kerugian. Sebab, masuk lahan produktif dan modal pengelolaan lahan. “Jika hanya dua kali lipat kami tetap rugi. Harga tanah belum tentu dapat. Di luar terdampak sudah mulai mahal,” katanya menggebu.
Dia mengaku resah karena masih menunggu kepastian yang belum jelas. Sementara itu melihat pembelian tanah di Polankarjo, Klaten, yang dinilai harga tak sesuai.

Demikian juga Wawan, warga sekitar. Dia ingin pemerintah turut andil dalam negosiasi penetapan harga. “Setuju bukan berarti tanah ditukar dengan harga yang murah,” tandasnya.

Senada disampaikan Dukuh Ketingan Supartinah soal kesepakatan harga ganti rugi tanah belum deal. Warga menghendaki tanah dibeli dengan harga tiga kali lipat. Sebagai upaya balik modal warga yang mayoritasnya sebagai petani. “Kebanyakan ya pengen beli lahan untuk bertani lagi,” katanya.

Disebutkan, sekitar 95 persen lahan pertanian di Dusun Ketingan terdampak proyek jalan tol. Dengan jumlah petani sekitar 113 orang. Tidak hanya lahan pertanian, situs makam dan sebagian Embung Ketingan pun turut terdampak. “Alhamdulillah permukiman tidak terdampak. Berkat Burung Kuntul yang dilindungi,” ujarnya. (mel/laz)

Sleman