RADAR JOGJA – Petani cabai tak diuntungkan saat musim penghujan datang. Sebab, di waktu tersebut, mayoritas cabai diserang patek. Sehingga, harga cabai meroket, akibat produksinya menurun.

Tak sedikit petani yang membiarkan cabainya bergelantungan hingga membusuk, berguguran dari pohonnya.

Seperti yang dialami Ngadiman, 60, petani dari Dusun Ketingan. Dia hanya akan menjual cabai-cabainya jikalau ada permintaan saja. Misal permintaan dari pasar ataupun warung lokalan. Jumlah yang dijual pun sesuai dengan permintaan. Itupun dengan harga murah. Mengingat kondisi cabainya yang rusak karena patek.

”Cabai kalau banyak hujan ya gini. Diobati belum tentu sembuh,” kata Ngadiman saat di ladangnya Selasa (15/12).

Dia tak tahu pasti, apakah karena jamur atau hama. Berbagai upaya dia lakukan untuk mengatasi patek tersebut. Namun hasilnya jauh dari harapan.
Jika cuaca belum berganti, kondisi ini sulit diatasi. Dia pun belum menemukan cara jitu atasi patek.

Tapi sebaliknya, jika musim kemarau, kualitas cabai meningkat. Kendati begitu, harganya sedang bahkan menurun. ”Sekali petik bisa setengah kuintal di lahan seluas 2 ribu meter persegi. Tapi kalau saat ini nggak petik,” katanya.

Cabai patek di warung mi masih diminati. Tetapi peminatnya minim. Meski, patek tak berpengaruh pada rasa cabai, namun mempercepat proses pembusukan. Jika normal, cabai bisa bertahan lima hingga seminggu. Saat terkena patek, cabai hanya bertahan dua sampai tiga hari. “Saat ini harga cabai di petani Rp 30 ribu per kg. Tapi kalau cabai patek turun setengahnya,” katanya.

Hal serupa juga dirasakan Ipul, wanita paruhbaya asal Nglarang, Tlogoadi. Dia mengaku, akan merombak tanaman cabai miliknya di dua titik. Hal itu dilakukan, kualitas produksi cabai menurun dan tak sebanding dengan biaya perawatan.

“Di luar perkiraan saya, biasanya Desember masih kemarau, sekarang ujan lebat,” katanya.

Dikatakan, dirinya sudah merasakan panen lima kali petik. Biasanya lebih dari sepuluh kali petik baru dirombak. ”Besok mau ditanami padi saja,” pungkasnya. (mel/bah)

Sleman