RADAR JOGJA – Dinas Kebudayaan (Disbud) Kabupaten Sleman mendorong warga Sleman tetap eksis berkesenian. Meski gelaran kegiatan belum dapat dipertontonkan secara langsung, warga diimbau melakukannya melalui daring. Salah satunya mengoptimalkan media sosial.

“Itu yang bisa kita lakukan saat ini. Sebab, pertunjukan langsung kan belum dapat digelar,” ungkap Kepala Disbud Sleman Aji Wulantara di kantornya, Selasa  (14/12).

Dinas berupaya memberi wadah bagi pelaku seni yang hendak mempublikasikan karyanya. Salah satunya mengunggah karya pelaku seni, khususnya warga Sleman, ke dalam akun Disbud Sleman dalam bentuk video.
Dituturkan, bantuan saat ini baru sebatas wadah ekspresi. Sementara bantuan stimulus sepenuhnya masuk anggaran pengembangan budaya kewenangan langsung dari Provinsi DIJ. “Karena bersumber dari dana keistimewaan,” katanya.

Termasuk kegiatan kesenian desa wisata budaya di Kabupaten Sleman. Pembinaan dan fasilitasi pengembangannya juga melalui Disbud DIJ. Ada 12 desa wisata budaya di Bumi Sembada ini. Lima di antaranya, ditingkatkan menjadi desa wisata budaya mandiri. Di luar itu masih sebagai rintisan desa budaya.

Menurutnya, antusiasme warga khususnya generasi muda terhadap kesenian mulai meningkat selama pandemi ini. Hal itu tampak pada respons yang tercantum pada kanal Youtube Disbud. Bahkan selama pandemi pihaknya menerima kiriman video pertunjukan daring dari masyarakat.
“Ada ratusan video, tari, pameran lukisan, performance seni, karawitan, wayang dan lain-lain merata meminta agar diupload di grup,” katanya.

Memaknai kebudayaan, sebagai sikap perilaku sehari-hari dengan penguatan sanggar dan SDM sekitar. Kendati begitu tidak semua terwadahi. Wadah pertunjukan daring melalui Disbud DIJ dapat terpublis, syaratnya, harus memiliki Nomor Induk Kebudayaan (NIK) dan harus berkelompok.

Pelaku Seni Antonia Elsa, 27, warga domisili Depok mengatakan, saat ini menjadi tantangan besar baginya yang hidup di dunia hiburan. Penyanyi dan musisi ini harus mengubah pola mindset-nya dan siap kehilangan esensi saat menampilkan daring. “Ya, sangat berbeda. Daring itu ibarat pasar ilang kumandange. Penontonnya semu,” katanya.

Kendati begitu, profesional dan eksistensi sangat teruji. Untuk meningkatkan viewer. “Saingannya banyak. Kalau di medsos ya untuk memperluas jaringan sekaligus investasi tabungan masa depan,” katanya.

Menurutnya, terkait wadah pertunjukan oleh Dinas DIJ sangat membantu. Kendati begitu, tanpa wadah tersebut masih ada jalan lain melalui kanal pribadi selama eksis dan konsisten dalam menciptakan karya. (mel/laz)

Sleman