RADAR JOGJA – Dalam sepuluh tahun terakhir, rumah Kristanti di bantaran Kali Winanga, Tompeyan, Tegalrejo dua kali diterjang logsor. Di lokasi yang sama. Kejadian terakhir terjadi pada Minggu malam (13/12) sekitar pukul 19.00. Saat hujan lebat ditambah aliran sungai yang cukup deras.

Kristianti mengatakan longsor terjadi sekitar pukul 19.00 saat dirinya tengah duduk-duduk santai di ruang keluarga rumah tersebut. Tiba-tiba seperti ada suara gemuruh yang cukup kencang. “Baru lunggoh-lunggoh, kayak gempa brol cepet banget. Saya kira belakang saya, tahu-tahu tempat saya,” katanya ditemui Senin (14/12).

Perempuan 49 tahun itu menjelaskan, bagian ruangan yang terdampak longsor itu dulu merupakan kamar pribadinya. Kamar tidur itu terletak paling ujung sisi timur dekat dengan sungai. Memang, ruangan yang menjadi kamarnya berukuran kurang lebih 3×5 meter itu sempat retak 10 tahun lalu akibat terdampak longsor yang sama. “Dulu sempat longsor pertama bagian dapur. Tapi belum ada penanganan sampai sekarang,” ujarnya.

Letak ruang dapur hanya bersebelahan dengan kamar tidur tersebut. Pada longsoran pertama, mengakibatkan kondisi dinding kamar retak-retak dibeberapa sudut hingga sampai ruangan kamar mandi kurang lebih sepanjang 15 meteran. Sampai akhirnya, menyusul lantai kamarnya yang ambles sedikit demi sedikit. Hingga menyusul longsoran kedua kali setelah puluhan tahun itu. “Dulu ini ruang kamar, saya tempati. Lantainya kok agak mendak bentet gitu, saya takut terus saya pindah kamar,” jelas warga Tompeyan, tegalrejo itu.

Rumah yang terdampak itu hanya ditempati oleh orang tuanya atau Ibu yang sudah lansia dan adiknya saja. Kamar yang dulu ia tempati hanya dijadikan sebagai ruang serbaguna. Namun, bersebelahan dengan kamarnya dulu merupakan kamar tidur Ibunya. “Dinding kamar Ibu saya ikut retak juga. Ya khawatir sih iya, makanya Ibu saya suruh tinggal di rumah saya dulu kalau malam. Takut kalau ada hujan dan longsor susulan,” terangnya yang menyebut rumah pribadinya hanya bersebelahan namun lebih jauh jaraknya dengan bibir sungai.

Sementara itu, Camat Tegalrejo, Taokhid mengatakan bantaran sungai Winongo memang cukup sering berpotensi longsor. Ini dikarenakan masih banyak bantaran belum bertalut. Tebing kemiringan ekstrem dengan ketinggian rata-rata sekitar 10 meter. “Dapat dikatakan rawan semuanya. Hampir merata punya potensi kan masih banyak yang belum tertalut,” katanya.

Seperti longsor yang terjadi tersebut pada posisi bantaran sungai yang belum tertalut. Menurut dia, rumah itu sudah mepet dengan tehing sungai. Sebelumnya, rumah dikelilingi rumpun bambu. Dan tanah bekas tumpukan sampah sehingga labil tergogos aliran sungai. Panjang longsoran sekitar 20 meter, tinggi 15 meter dan lebar lima meter. Tidak ada korban jiwa dalam kejadian ini. Terdampak longsor terdapat 3 KK dan 10 jiwa. Rumah terdampak milik Sukinah seorang lansia 73 tahun. Lokasi longsor berada si Tompeyan No 143, RT 01, RW 03 Tegalrejo, Tegalrejo. “Hujan yang cukup deras menyebabkan tanah yang disitu labil karena di atasnya dulu bekas tumpukan sampah kena air kemudian longsor,” jelasnya.

Antisipasi dilakukan selama ini memberikan himbauan kepada warganya agar tetap waspada ketika hujan dengan intensitas tinggi. Dan juga berkoordinasi dengan KTB di wilayah untuk memonitor perkembangan debit air dan potensi longsor. “Penanganan yang sudah berjalan kerjabakti untuk pembongkaran bangunan bangunan yang dikawatirkan bisa menggeret atau menarik bangunan lain,” tambahnya. (wia/pra)

Sleman