RADAR JOGJA – Sebanyak 1.156 tempat usaha belum taat terhadap penerapan protokol kesehatan (prokes). Jumlah itu adalah tempat usaha pada 14 kecamatan. Satuan Polisi Pamong Praja (Satpop) Kota Jogja berulang gencarkan edukasi.

Kepala Satpol PP Kota Jogja, Agus Winarto mengatakan pelanggaran yang dilakukan pelaku usaha itu beragam jenis. Didominasi tidak adanya tanda jaga jarak yaitu 45 persen. Tidak menyediakan tempat cuci tangan yaitu 31 persen. Penjual tidak mengenakan masker 16 persen. Dan usaha kelas menengah ke atas yang tidak menyediakan thermogun yaitu 8 persen. “Semua sudah kami kasih surat peringatan pengusaha yang belum taat prokes,” katanya Jumat (11/12).

Agus menjelaskan surat peringatan tertulis itu bertujuan agar pelaku usaha mengubah pola perilakunya dalam menjalankan aktivitas usahanya. Agar pengunjung merasa aman dan nyaman. Pun guna mencegah munculnya klaster-klaster baru karena temuan kasus Covid-19. “Konsekuensinya kalau ada kasus ya tempat usaha akan rugi karena harus tutup kan untuk proses tracing,” ujarnya.

Menurutnya, penting para pelaku usaha ini bersikap tegas di dalam menjalankan usahanya dengan menerapkan prokes. Pun memakai masker ialah menyangkut tentang perilaku masyarakat. Diakuinya, pelanggaran seperti ini tidak bisa diawasi 24 jam atau setiap saat. “Maka kami minta untuk tetap jaga diri dengan pakai masker, tidak usah menunggu petugas datang baru dipakai,” jelasnya.

Melalui program sapaan warga, sudah ada 1.965 tempat usaha yang disapa di lapangan oleh Satpol PP. Diantaranya, didominasi 59 persen tempat usaha belum taat prokes. Sisanya 41 persen tempat usaha sudah taat prokes. “Kita kasih surat juga artinya biar mengerti dan ingat terhadap prokes,” imbuhnya. (wia/bah)

Sleman