RADAR JOGJA – Nitilaku alias napak tilas boyongan Universitas Gadjah Mada (UGM) dari Keraton Jogjakarta menuju Bulaksumur tahun ini, bakal dilakukan berbeda. Pandemi Covid-19 memaksa nitilaku dilaksanakan secara virtual.

HERY KURNIAWAN, Radar Jogja, Sleman

Nitilaku itu sendiri akan bisa disaksikan di berbagai platform digital UGM pada Minggu (13/12) pagi. Pawai ini diharapkan bisa menjadi peringatan dan simbolisasi perjalanan sejarah UGM. Di mana berawal dari semangat perjuangan bangsa Indonesia yang kelahirannya bertempat di Keraton Jogja, hingga kemudian memulai perjalanannya di tempatnya berdiri sekarang, di Bulaksumur, Depok, Sleman.

Ketua Panitia Nitilaku Perguruan Kebangsaan 2020 Iqbal Tuwasikal menjelaskan, mengingat tahun ini masih dalam masa pandemi, maka perlu penyesuaian. Bentuk dan teknis pelaksanaan nitilaku harus berpegang pada protokol kesehatan (prokes).

“Pawai, pertunjukan seni budaya, dan keterlibatan peserta akan diselenggarakan secara virtual, baik melalui siaran langsung maupun bentuk interaksi daring yang lain melalui kanal media sosial,” ujarnya dalam sesi jumpa pers di Balairung UGM, Jumat (11/12).

Kegiatan ini nantinya memiliki konsep menghadirkan bentuk sinergi 5K, yaitu kampus (sebagai basis pengembangan ilmu-teori), keraton, kampung (sebagai basis pengembangan budaya-praksis), komunitas, dan korporasi dalam kerangka kebhineka tunggal ikaan dan keilmuwan kontekstual.

“Sinergi 5K itu akan hadir sebagai elemen acara dan memperlihatkan perwakilan-perwakilan yang bisa menunjukkan relasi dan kontribusi masing-masing dalam mewujudkan spirit nilai-nilai UGM yakni perjuangan, kebangsaan, Pancasila yang berkebudayaan,” jelas Iqbal.

Dalam sesi jumpa pers ini juga hadir secara virtual Ketua Kagama (Keluarga Alumni Gadjah Mada) Ganjar Pranowo yang juga gubernur Jateng. Ganjar pun mengucapkan terima kasih kepada para panitia yang telah berupaya keras mewujudkan even tahunan itu, pada tahun ini. Di tengah banyaknya tantangan yang harus dihadapi.

Ke depan Ganjar berharap Kagama dan UGM bisa terus saling berkolaborasi. Kolaborasi diperlukan untuk memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi masyarakat. “Kagama dan UGM akan bekerja keras untuk itu,” tandas pria yang asli Kutoarjo, Purworejo, ini. (laz)

Sleman