RADAR JOGJA – Sebanyak 4.267 surat suara rusak dimusnahkan dengan cara dibakar oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Sleman Selasa (8/12) sore. Surat suara yang rusak diperoleh dari tahapan sortir yang sebelumnya dilakukan.

Ketua KPU Sleman Trapsi Haryadi menjelaskan, surat suara yang dimusnahkan memiliki kerusakan beragam. Seperti sobek, salah satu sisi tidak tercetak, hingga warna yang luntur. Pemusnahan telah sesuai dengan Peraturan KPU Nomor 8 Tahun 2020. “Surat suara yang rusak memang harus dimusnahkan,” kata Trapsi.

Sebelum dimusnahkan, pihaknya telah meminta surat suara pengganti ke pihak pencetak. Surat suara yang ada dan telah didistribusikan ke tempat pemungutan suara (TPS), dipastikan mencukupi untuk seluruh pemilih Sleman. Total, Daftar Pemilih Tetap (DPT) sebanyak 792.925 orang.

Pihaknya juga telah menyiapkan surat suara cadangan, sehingga tidak akan kekurangan. “Total surat suara 815.791 buah, sudah termasuk 2,5 persen, dan 2.000 untuk pemungutan suara ulang,” kata Trapsi.

Terkait dengan warga Sleman yang pindah memilih, ia mengaku pergeseran surat suara yang ada tidak akan kurang. Mengingat pilkada ini berbeda dengan Pemilu 2019. Meskipun data pasti pendaftar formulir A5 hingga sore belum didapatkan, pihaknya optimistis pemilih pindahan tidak akan banyak. “Yang pindah memilih kan hanya warga Sleman saja,” tutur Trapsi.

Siap Memilih di Tengah Dua Bencana

Masyarakat Sleman akan kembali memilih siapa yang akan menjadi bupati dan wakil bupatinya untuk lima tahun ke depan. Namun, ajang pemilihan kepala daerah (pilkada) kali ini terbilang spesial.

Pilkada hadir di tengah perasaan waswas lantaran Kabupaten Sleman, terutama di Kapanewon Cangkringan, sedang menghadapi dua bencana sekaligus. Pertama, tentu saja pandemi Covid-19. Kedua, ada Gunung Merapi yang kini sedang berstatus siaga sehingga sebagian warganya mengungsi.

KPU Kabupaten Sleman sendiri membuat keputusan penting agar hak suara rakyat tetap bisa disalurkan. Salah satunya memindahkan TPS di Dusun Kalitengah Lor ke gedung TK di sebelah timur Kantor Kalurahan Glagaharjo.

Hal itu dilakukan agar warga Kalitengah Lor yang sebagian besar ada di Barak Pengungsian Glagaharjo bisa lebih mudah menyalurkan hak suaranya. “Relokasi TPS sebagai langkah penyesuaian dengan pengungsi di barak pengungsian. Artinya TPS direlokasi ke pengungsian,” kata Ketua KPU Kabupaten Sleman Trapsi Haryadi.

Sementara itu TPS 8 Kalurahan Glagaharjo sudah siap untuk menyambut para pemilik hak suara pada pilkada ini. Sejak kemarin siang Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dibantu warga yang lain sudah menyiapkan segala hal untuk kelancaran proses pemungutan suara.

Beberapa hal detail seperti pelaksanaan protokol kesehatan (prokes) juga diperhatikan. Menurut pantauan Radar Jogja, beberapa tulisan berisi imbauan untuk menjaga jarak dan mencuci tangan sudah terpasang di lokasi TPS 8. Demikian pula dengan tempat cuci tangan itu sendiri.

Ketua KPPS TPS 8 Kalurahan Glagaharjo Pono Dwiyanto menyebut pilkada kali ini memang memberikan tantangan tersendiri. Baik bagi panitia maupun pemilih. “Ya, kami berusaha semaksimal mungkin menyiapkan ini semua,” katanya kepada Radar Jogja.

Lebih lanjut Pono berharap pilkada tahun ini berjalan dengan lancar. Sleman bisa mendapatkan bupati dan wakilnya terbaik, sementara rakyat juga bisa menyalurkan hak suaranya. (eno/kur/laz)

Sleman