RADAR JOGJA- Aktivis Jogja Corruption Watch (JCW) melakukan aksi tunggal di Bundaran Universitas Gadjah Mada (UGM), Minggu (6/12) siang. Aksi tunggal ini dilakukan sebagai bentuk keprihatinan terhadap Bantuan Sosial (Bansos) penanganan Covid-19 pada Kementerian Sosial Republik Indonesia yang diduga dikorupsi.

Selain itu JCW juga menagih janji kepada Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri yang pernah mencetuskan rencana hukuman mati bagi pejabat atau penyelengara negara yang melakukan korupsi atas bantuan sosial (Bansos).

Meskipun aksi sendirian, Kamba juga membawa peralatan aksi. Mulai dari plastik bening yang berisikan sembako, rantai besi dan plastik berwarna hitam. Dengan mengenakan lurik garis lurus Kamba mengatakan simbol dari plastik hitam yang ditutupkan dikepalanya dan rantai sebagai simbol hukuman mati bagi koruptor bansos penanganan Covid-19, layak diterapkan. “Ini sudah kebangetan, kalau memang benar Mensos ikutan korupsi,” ujar Kamba.

Kamba juga membawa sebungkus plastik yang berisi sembako. Seperti gula, beras dan teh. Sebagai simbol bansos masih saja dikorupsi. Sengaja aksi tunggal ini dilakukan di bundaran UGM sebagai saksi sejarah reformasi tahun 1998 karena berhasil menurunkan rezim Orde Baru presiden Soeharto, yang berkuasa selama 32 tahun.

JCW, tegas Kamba, berharap kasus ini dituntaskan dan janji Ketua KPK Firli Bahuri yang mengancam hukuman mati bagi koruptor bansos dapat dilaksanakan. “Gunakan saja pasal 2 ayat (2) Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi,” pinta Kamba.

Sehari sebelumnya, Sabtu (5/12), KPK melakukan Operasi Tangkap Tangan (OTT) terhadap 5 tersangka yang diduga kuat korupsi bansos untuk wilayah Jabidetabek tahun 2020 di Kementerian Sosial. Mereka masing-masing JPB, MJS dan AW selaku penerima uang. Sedangkan dua lainnya AIM dan HS dari swasta selaku pemberi suap.

Informasi OTT itu dumumkan KPK pada dini hari pukul 02.45 WIB. Satu jam kemudian Mensos Juliari Peter Batubara (JPB) menyerahkan diri ke KPK, setelah namanya diumumkan sebagai tersangka.

Ketua KPK Firli Bahuri meneyebut, Juliari menerima uang Rp 17 miliar dari korupsi bansos sembako bagi keluarga miskin terdampak Covid-19, serta diduga digunakan untuk keperluan pribadi.(sky)

Sleman