RADAR JOGJA – Melonjaknya kasus terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Sleman berdampak pada ketersediaan ruang perawatan pasien. Tercatat shelter Rusunawa Gemawang Mlati Sleman telah penuh. Sementara untuk Asrama Haji Sleman hampir mendekati kapasitas, 112 tempat tidur.

Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo tak menampik kondisi ini. Langkah antisipasi telah dilakukan dengan keterlibatan pihak swasta. Salah satunya  menyewa fasilitas kesehatan isolasi Covid-19 milik Universitas Aisyiyah (Unisa). Dikhususkan bagi pasien Covid-19 asimptomatik atau tak bergejala.

“Shelter Gemawang sudah penuh. Sebenarnya kapasitas awal 74 unit ternyata hanya bisa digunakan 51 unit, itu sudah penuh semua. Fasilitas ada yang rusak dan tidak lengkap fasilitasnya,” jelasnya ditemui di Kantor Dinkes Sleman, Jumat (4/12).

Sementara untuk Asrama Haji Sleman telah terpakai 74 unit. Jumlah ini masih bisa bertambah karena dinamika perubahan angka kasus. Kapasitas total di shelter ini mampu menampung 112 pasien Covid-19.

Sama halnya dengan Rusunawa Gemawang, Asrama Haji Sleman juga tak optimal. Sejatinya fasilitas ini bisa menampung 138 pasien Covid-19. Hanya saja beberapa fasilitas tak lengkap dan memadai. Sehingga hanya 112 kamar tidur yang bisa terpakai.

“Kemarin saat pengumuman tutup isinya sudah 109 pasien. Sekarang ini sisanya 30 hingga 35 bed. Belum dihitung jika ada penambahan kasus baru,” katanya.

Joko Hastaryo menambahkan, terkait pemanfaatan shelter Covid-19 milik Unisa masih dalam koordinasi. Ini karena belum ada perjanjian kerjasama antara Pemkab Sleman dan pihak universitas. Joko menuturkan tetap ada biaya sewa untuk penggunaan fasilitas medis milik swasta tersebut.

Perbincangan terakhir antar instansi, menyebutkan biaya sewa sebesar Rp 3,5 juta selama 10 hari. Berlaku untuk satu pasien selama menjalani rawat inap isolasi. Paket tersebut sudah termasuk tindakan medis profesional dan konsumsi sehari-hari.

“Ada 50 kamar dengan total 100 bed. Tapi karena dikelola swasta maka ada tarif operasional. Bisa tapi harus MoU (perjanjian kerjasama) dulu. Pasien asimptomatik nanti tidak bayar, semua biaya ditanggung Pemkab,” tambahnya.

Tak hanya shelter bagi pasien Covid-19 asimptomatik, ruang ICU Covid-19 juga nyaris penuh. Dari total fasilitas yang tersedia di Sleman hanya tersisa 1 kamar di Jogjakarta Ibternational Hospital (JIH). Kondisi ini tentu menjadi perhatian. Terlebih fungsinya untuk merawat pasien Covid-19 dengan gejala sedang hingga berat.

Joko mengatakan, solusi atas permasalahan ini adalah pengaktifan ICU milik RSA UGM dan RSPAU Hardjolukito. Hanya saja ada kendala lainnya. Berupa kurangnya tenaga medis berkompeten yang bertugas di ICU Covid-19.

“ICU penuh semua, sudah sampai kemarin sore penuh semua. Kalau ada covid kritikal ini memang sedang menjadi pembahasan di tingkat provinsi. Tempat tidur ada tapi SDM-nya yang kurang. Masih emnunggu bantuan SDM dari pemerintah pusat,” katanya.(dwi/sky)

Sleman