RADAR JOGJA – Klaster keluarga mendominasi munculnya kasus terkonfirmasi positif Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di Sleman. Dominasi klaster ini mulai muncul dari awal Oktober hingga akhir November. Tercatat ada 74 kasus yang muncul dalam periode waktu tersebut.

Fenomena ini muncul karena minimnya protokol kesehatan (prokes) Covid-19 di lingkungan rumah. Alhasil persebaran kasus justru semakin luas. Tak hanya di lingkup keluarga inti tapi hingga lingkungan rumah.

“Identifikasi klaster keluarga ada 74 kasus. Misalnya suami pulang dari Sulawesi atau Jakarta ternyata positif (Covid-19) dan terjadi kontak erat di keluarga rumah. Sejak Oktober hingga November ada 74 kasus,” jelas Kepala Dinas Kesehatan Sleman Joko Hastaryo ditemui di kantornya, Jumat (4/12).

Dalam perkembangannya klaster keluarga juga menjadi klaster warga. Ini karena penularan mulai merambat ke lingkungan luar rumah. Penyebabnya sama, lemahnya penerapan prokes Covid-19. Terutama penggunaan masker dan menjaga jarak.

Beberapa kasus dalam klaster ini juga berawal dari tak optimalnya isolasi mandiri. Pasien tetap berinteraksi dengan penghuni rumah lainnya. Alhasil tindakan medis tidak berjalan sesuai protokol.

“Isolasi mandiri tapi prakteknya tidak betul justru berpotensi penyebaran kasus. Harusnya kamar tetap steril, punya kamar mandi sendiri dan tidak ada interaksi dengan penghuni rumah lainnya. Sama seperti di rumah sakit tapi ini di rumah,” katanya.

Berdasarkan catatan Satgas Covid-19 Pemkab Sleman, jumlah kasus saat ini mendapai 3061. Penambahan kasus terbaru mencapai 92 kasus per Jumat (4/12). Secara umum, dominasi kasus adalah hasil tracing. Menyusul kemudian riwayat perjalanan dan swab mandiri.

Fenomena swab mandiri diakui olehnya mengalami peningkatan. Terlebih setelah beberapa fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) mampu menguji spesimen lebih cepat. Alhasil minat untuk melakukan tes kesehatan swab terus bertambah.

“Ada yang pulang dari perjalanan atau punya gejala demam lalu batuk. Untuk merasa aman periksa. Beberapa fasyankes sudah 1 hari uji swabnya, seperti RSUD Sleman,” ujarnya.

RSUD Sleman, lanjutnya, memiliki dua mesin penguji swab PCR. Untuk satu kali uji, setiap mesin bisa menguji 6 spesimen. Pengujian setiap sesinya berlangsung selama 45 menit. Optimalisasi dalam 8 jam bisa menguji 96 spesimen.

Sayangnya kinerja mesin penguji swab milik RSUD Sleman belum optimal. Ini karena adanya keterbatasan cartridge Reagen. Alhasil pengujian medis terhadap Covid-19 hanya bisa 36 spesiemen perharinya.

“Bukan karena anggaran tapi karena memang cartridgenya terbatas. Wajar saja karena cartridge Reagen itu yang pakai seluruh Indonesia, jadi ketersediaannya terbatas,” katanya. (dwi/sky)

Sleman