RADAR JOGJA – UGM bersama dengan PT Filipina Antiviral Indonesia (FAI) berencana kembangkan obat untuk anti inflamasi dan antivirus. Termasuk untuk Covid-19. Selain mengembangkan obat, nantinya laboratorium bioteknologi juga akan dikembangkan.

Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Alumni, Paripurna menjelaskan jika saat ini, pengembangan obat oleh PT FAI dan peneliti UGM masih dalam tahap persiapan dan proses konsultasi dengan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) dan Komite Etik. Dalam pengembangannya, turut menggandeng salah satu industri Farmasi Indonesia yaitu PT Kimia Farma.

Menurut Paripurna, nantinya pengembangan obat akan melibatkan partisipasi uji klinik di beberapa rumah sakit di Indonesia. “Dan di dukung oleh tim peneliti bersertifikat cara uji klinis yang baik (CUKB),” jelas Paripurna Rabu (2/12).

Koordinator Studi Pengembangan Obat, Jarir At Thobari menuturkan, seluruh dokumen yang dibutuhkan untuk pengembangan obat telah dikonsultasikan ke BPOM dan Komite Etik. Dalam waktu dekat, diharapkan rekomendasi bisa turun dan proses pengembangan obat bisa dimulai tahun depan. Sehingga, hilirisasi bisa dilakukan pada 2022 mendatang.

Di awal kerjasama, lanjut Jarir, akan difokuskan pada pengembangan obat untuk Covid-19. Mengingat pandemi masih belum usai. Sedangkan untuk ke depannya, pihaknya juga berencana mengembangkan inflamasi dan antivirus. Melalui kerjasama tersebut, pengembangan bisa dilakukan di Indonesia dengan menggunakan raw material dari dalam negeri.

Hal ini dikarenakan penelitian maupun produksi beberapa jenis obat antivirus atau anti inflamasi terhitung masih sangat minim. ‚ÄĚDalam proses di awal kami masih akan mengimpor terlebih dahulu untuk proses formulasi. Untuk kemudian bisa mengembangkan industrinya di UGM,” kata Jarir. (eno/bah)

Sleman