RADAR JOGJA – Gerakan Pemuda (GP) Ansor Kabupaten Sleman membuat gebrakan. Usai menggelar apel kebangsaan pada Ahad (29/11) pengurus anak cabang (PAC) GP Ansor se-Sleman menyambangi 17 panewu secara serentak di wilayah masing-masing. Kehadiran mereka untuk menyampaikan pernyataan sikap terkait perkembangan situasi perhelatan Pilkada 2020 Sleman.

Ketua GP Ansor Sleman Ariyanto Nugroho menyatakan, proses pemungutan suara pemilihan bupati-wakil bupati 9 Desember mendatang harus berjalan adil dan transparan. Dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan dalam rangka mencegah persebaran Covid-19. Hal itulah yang mendasari sikap GP Ansor Sleman dalam pelaksanaan pilkada kali ini.

Dikatakan, PAC GP Ansor mendapat banyak laporan adanya hal-hal yang dinilai tidak etis dilakukan oleh oknum tertentu saat penyaluran bantuan sosial kepada masyarakat. Pertama, bantuan sosial (bansos) disalurkan mendekati pelaksanaan pemungutan suara. Kedua, ada informasi masyarakat penerima bansos diduga digiring untuk memilih pasangan calon bupati-wakil bupati tertentu. “Bahkan diancam dihentikan bansosnya. Warga dibuat seolah berutang budi pada person tertentu karena merasa sudah mengawal bansos/hibah bagi masyarakat,” ungkapnya Selasa(1/12).

Hal ini yang mendorong GP Ansor menemui para panewu. Agar penewu mengingatkan jajaran di bawahnya, mulai lurah, dukuh, dan ketua RT/RW untuk senantiasa bersikap netral. Serta tidak memanfaatkan jabatan yang diamanahkan. “Hal ini tidak lain tidak bukan demi menjaga situasi kondusif. Baik sebelum, pada saat, maupun pasca pilkada,” ujar Ariyanto.

Selain masalah tersebut, lanjut Ariyanto, GP Ansor berkomitmen turut serta mengawal pelaksanaan protokol kesehatan saat proses pemungutan suara. Mengingat angka kasus Covid-19 di Sleman terus meningkat. (*/ist)

Sleman