RADAR JOGJA – Keberadan human immunodeficiency virus (HIV) acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) menjadi isu kemanusiaan yang tak boleh dianggap enteng. Ini menjadi pekerjaan rumah multi sektor. Kolaborasi dan solidaritas harus terus ditingkatkan. Sebab, stigma diskriminasi masih menjadi kendala dalam upaya menekan angka kasus ini.

Pakar HIV Dokter Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) dr Sardjito Jogjakarta Yanri Wijayanti Subronto mengatakan, pendidikan dan penelitian terus digencarkan. Termasuk pada tingkat pengambil kebijakan, implementator dan tenaga kesehatan (nakes). ”Membuat masyarakat mau tes dan ikut terapi,” ungkap Yanri Selasa (1/12).

Apabila masyarakat paham dan tidak ada lagi stigma diskriminasi, maka kasus HIV/AIDS bisa ditekan. Jika penderita melakukan terapi intensif begitu virus habis maka tidak akan menularkan. ”Istilahnya, undetectable virus tidak terdeteksi. Dan undetectable virus tidak menularkan,” jelasnya.

Upaya pencegahan, jelasnya seharusnya dilakukan di awal sexual active. Termasuk untuk program ibu hamil semua wajib tes HIV. Untuk mengetahui status apakah positif atau tidak. Jika positif, segera diberikan terapi agar tidak menular ke janinnya. ”Masalah kesehatan reproduksi, gender nggak boleh ditutupi. Tingkat kesadaran ini sesuatu berkesinambungan. Tidak boleh lelah mengedukasi masyarakat,” terangnya.

Sementara itu, berdasarkan catatan Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman, total angka kasus HIV AIDS dihitung sejak 2014 hingga saat ini mencapai 1.338 HIV dan 354 AIDS. Sedangkan pada 2020 per November angkanya sebanyak 91 HIV dan 8 AIDS.

Kepala Seksi Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Menular Dinkes Sleman Dulzaini menyebut, jumlah angka terus menunjukkan kenaikan. Sebab, data bersifat komulatif. Dari data tersebut, masyarakat paling banyak terpapar usia produktif 20 hingga 40 tahun dengan risiko terbanyak terjadi pada homoseksual di tahun 2020 ini.

”Pada dasarnya penyakit ini bukan turunan. Namun bisa saja menular bila virus ini tidak segera tertangani,” jelasnya.

Nah, untuk menekan angka ini, secara intensif melakukan sosialisasi kepada 25 Puskesmas se-Kabupaten Sleman. Sosialisasi juga dilakukan hingga tingkat masyarakat bekerjasama dengan kader kesehatan setempat. ”Pendekatan terus dilakukan dengan meningkatkan pelayanan. Jika dimungkinkan menghubungi petugas untuk jemput bola,” katanya. (mel/bah)

Sleman