RADAR JOGJA- Seorang lelaki memakai topeng bergambar tokoh superhero Kapten Amerika, sedang mengayunkan gagang sapu lidi. Suara khas terdengar, saat ujung sapu bergesekan dengan permukaan trotoar dari susunan konblok.

Pohon rindang di tepi jalan raya, tak mampu melindungi lelaki bernama Baharudin Kamba itu dari terpaan sinar matahari. Dia terlihat memakai baju surjan dan blangkon sebagai penutup kepala. Aktivis Jogja Corruption Watch (JCW), Baharuddin Kamba kembali melakukan aksi tunggal, Selasa (1/12).

Kali ini ia berteatrikal menyapu ratusan lembar uang kertas, pecahan 100 ribu dan 50 ribu. Lembaran rupiah terlihat berserakan, di depan pagar pintu masuk kantor Bawaslu Kabupaten Sleman.

Aksi tunggal tersebut dilakukan sebagai dukungan pada Bawaslu Sleman untuk menuntaskan pelanggaran pemilu baik itu politik uang maupun pembagian bantuan sosial (bansos) jelang pencoblosan 9 Desember 2020 nanti. Menurut Baharuddin dalam aksi kali ini dia membawa sapu lidi, batik lurik, topeng super hero Kapten Amerika dan uang mainan.

“Maksud utama saya melakukan aksi tunggal ini sebagai dukungan kepada Bawaslu Sleman untuk menegakan aturan apabila ada pelanggaran Pilkada Sleman terutama paslon yang dekat dengan kekuasaan. Tidak hanya paslon petahana namun non petaha pun dapat melakukan pelanggaran pemilu seperti politik uang dan bagi-bagi bansos jelang coblosan,” ujarnya.

Usai melakukan aksi teaterikal, Baharudin Kamba masuk ke dalam kantor lembaga pengawas pemilu, untuk menyerahkan pernyataan sikap tertulis.
Ketua Bawaslu Sleman Abdul Karim Mustofa, yang menemui aktivis JCW itu, siap menindaklanjuti aspirasi yang telah disampaikan.

”Kami tentu akan berkonsolidasi dengan berbagai stake holder untuk melakukan sosialisasi bagaimana mewujudkan Pilkada yang bersih, bermartabat dan demokratis,” ujarnya.

Abdul Karim menambahkan, Jika ada anggota masyarakat yang menemukan dugaan pelanggaran kampanye, baik dari sisi politik uang atau bentuk pelanggaran lainnya, maka bisa dilaporkan ke Bawaslu agar bisa ditelusuri.
Bupati Sleman Sri Purnomo menepis anggapan, jika penyaluran bansos untuk memuluskan langkah istrinya, yaitu Kustini yang mencalonkan diri sebagai bupati.

”Itu kan perintah presiden, karena ini kaitannya dengan Pandemi Covid sehingga penyaluran bansos tidak ada tendensi apa-apa,” kilahnya.
Dirinya tidak mempersoalkan, munculnya kecurigaan di masyarakat karena ia menganggap hal itu biasa terjadi seiring timbulnya multitafsir atas kebijakan yang dijalankannya. (sky)

Sleman