RADAR JOGJA – Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta terus melakukan pemantauan untuk menganalisis morfologi Gunung Merapi. Belakangan diketahui adanya pembentukan crack atau rekahan di kawah Merapi.

“Akhir-akhir ini terjadi pembentukan crack atau rekahan di kawah atau kubah lava pasca erupsi 2010 dan 2018. Kemudian juga menunjukkan aktivitas guguran yang intensif,” ujar Kepala Seksi Gunung Merapi BPPTKG Agus Budi Santoso.

Adanya retakan itu menunjukkan bahwa magma semakin dekat dengan permukaan. Pihaknya pun masih menunggu terbentuknya kubah lava dari Merapi. “Kita menunggu kapan magma ini membentuk kubah di permukaan,” jelasnya.

Lebih lanjut dijelaskan, petugas pengamat Gunung Merapi pada zaman dulu melakukan pengamatan visual berupa kolom asap, titik api, alterasi batuan, lava pijar, awan panas, maupun perubahan morfologi. Selain itu juga menggambar sketsa morfologi puncak secara berkala, sehingga perkembangan aktivitas dapat diketahui melalui sketsa itu.

Namun perkembangan teknologi membuat metode pemantauan juga berkembang. Kini pemantauan dibantu teknologi, di antaranya drone dan satelit. “Pemantauan dengan menggunakan drone telah dilakukan secara intensif sejak menjelang erupsi tahun 2018 hingga saat ini dengan periode setiap satu pekan,” terang Agus.

Metode pemantauan visual lain yang telah diterapkan adalah melalui satelit. Prinsipnya sama dengan metode drone, di mana data diperoleh dengan foto objek dari atas.

Data dapat diperoleh tergantung jadwal pengambilan data oleh satelit. Resolusi foto satelit saat ini dapat mencapai orde sentimeter, sehingga sangat cukup untuk keperluan analisis morfologi. (kur/laz)

Sleman