RADAR JOGJA – Burung kuntul atau bangau mulai menghiasi pepohonan di sepanjang Jalan Ketingan, Tirtoadi, Mlati, Sleman. Ya, burung-burung itu kembali ke habitatnya. Mereka membuat sarang dan bertelur.

Seorang warga Dusun Ketingan Yanto, 74, mengatakan, burung-burung tersebut datang tiba-tiba dari berbagai arah. Entah dari mana asalnya, setiap musim penghujan mereka (burung kuntul,) selalu datang dan hinggap di pepohonan warga Dusun Ketingan. Tak main-main jumlahnya mencapai ribuan. “Mereka bertebaran kadang turun ke halaman rumah,” kata Yanto Minggu (29/11).

Warga sekitar sudah terbiasa dengan keberadaan burung tersebut. Toh, kalau pun diusir burung jenis Ciconiidae itu juga enggan pergi. Mereka hanya akan berpindah satu pohon ke pohon lainnya. Kendati begitu, jika telur-telurnya menetas, tak khayal warga mengeluhkan bau tak sedap akibat kotoran bangau tersebut.”Baunya sampai masuk rumah. Apalagi pas bersamaan dengan hujan lebat, baunya menyengat,” keluhnya. Lanjut dia seringnya burung kuntul berimigran maka, hal itu sudah menjadi biasa dan diterima oleh warga.

Warga lain, Siti Rokhimi, 50 menyebut, keberadaan burung kuntul menjadi kekayaan tersendiri di Dusunnya. Bahkan bisa dijadikan hiburan penenang jiwa dikala suntuk melanda. Burung kuntul akan semakin bertambah seketika pagi dan sore. Karena saat -saat itulah mereka pulang, usai mencari makan. “Di pohon-pohon inilah mereka tinggal,” ujarnya sembari menunjuk pepohonan di  halaman rumahnya.

Ketua Desa Wisata Ketingan Haryono mengatakan, burung kuntul mulai bermigrasi sejak 2 November lalu. Kendati begitu, jumlahnya semakin bertambah. Bahkan berdasarkan penelitian dari Universitas Gadjah Mada (UGM) beberapa waktu lalu jumlahnya lebih dari 10 ribu. Jenisnya ada tiga macam. Ada yang putih polos dengan ukuran lebih besar. Ada yang berleher dan berpunggung kuning dengan bulu panjang dibagian punggung. Dan ada yang berleher coklat dan berpunggung abu-abu gelap atau disebut blekok. Ketiganya sama-sama memiliki leher leter S.”Nah, yang putih itu yang paling minim. Diprediksi sekitar 20 ekor,” katanya. Sedangkan yang mendominasi  yang berleher dan berpunggung kuning.

Burung-burung ini liar. Biasa mencari makan hingga ke wilayah Kulonprogo, Bantul bahkan di wilayah lebih jauh yang masih banyak lahan pertaniannya. Dikatakan, burung kuntul tetap tinggal selama musim penghujan. Mereka membutuhkan waktu tiga bulan lamanya dari membuat sarang hingga anak-anaknya menetas dan bisa terbang.

Akan tetapi, keberadaan hewan pemakan ikan dan serangga ini, hingga sekarang populasinya mulai berkurang. Seiring berkurangnya pepohonan di wilayah tersebut. Ya, hampir 50 persen pohon terkikis untuk pembuatan perumahan. “Nah, dua tahun belakangan ini sudah banyak yang pindah di pepohonan Dusun Cebongan,” katanya.

Konon, burung-burung ini berdatangan sejak 1997. Paska diresmikannya jalan kampung yang kini dijadikan pintu masuk Desa Wisata Ketingan. Nah, sehari pascapenandatanganan prasasti pembangunan jalan tersebut oleh Sultan Hamengku Buwono X, burung-burung itu mulai berdatangan. “Burung itu dilindungi dan tetap dilestarikan untuk keseimbangan alam,” tuturnya. (mel/pra)

Sleman