RADAR JOGJA – Kepala Dinas Perlindungan Anak Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P3AP2KB) Kabupaten Sleman Mafilindati Nuraini angkat bicara terkait keberadaan bilik Ayah Bunda. Diketahui bahwa keberadaan bilik asmara di barak pengungsian Glagaharjo Cangkringan ini menuai polemik. Terlebih mayoritas pengungsi adalah kelompok rentan.

Linda, sapaannya, menuturkan pembangunan bilik atas instruksi Gubernur DIJ Hamengku Buwono X (HB X). Tepatnya saat kunjungan ke barak Glagaharjo beberapa waktu lalu. Pihaknya sebagai instansi terkait hanya menjalankan arahan tersebut.

“Pak Gubernur sudah pangandikan (mengintruksikan) untuk menyiapkan bilik suami istri waktu itu. Tupoksinya kan di dinas kami, ya jadi kami menyiapkan satu bilik Ayah Bunda,” jelasnya dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (30/11).

 Linda menjelaskan keberadaan bilik asmara adalah hal yang lumrah dalam barak pengungsian. Hanya saja sifat penggunaannya bukan berarti segera. Berdirinya bilik sebagai wujud antisipasi dan bagian dari fasilitas barak pengungsian.

Dominasi penghuni barak adalah kelompok rentan juga menjadi pertimbangan. Linda menyadari penghuni barak saat ini adalah kelompok rentan. Terdiri dari lansia, balita, anak-anak, ibu hamil, dan difabel warga Kalitengah Lor.

“Ya kami ngawekani (mengantisipasi) saja. Ini wujud kesiapsiagaan, kalau kemudian pengungsian jadi banyak, lalu jangka waktu lama. Apalagi jika usia produktif juga mulai ikut mengungsi,” katanya.

Perempuan yang juga sempat menjabat Kepala Dinas Kesehatan Sleman ini meminta warga dan relawan tidak salah sangka. Azas pemanfaatan bilik tidaklah segera. Artinya bilik tidak harus digunakan oleh para pengungsi yang kini berada di barak pengungsian Glagaharjo.

“Bukan kemudian ada bilik, terus harus segera digunakan. Antisipasi apabila dibutuhkan. Setidaknya sudah ada tempat yang representatif, aman, safety, untuk sisi-sisi kemanusiaan,” ujarnya.

Terkait adanya anjuran memindahkan lokasi, menjadi pertimbangan baginya. Diketahui bahwa lokasi bilik ini bersebelahan dengan barak pengungsian. Tepatnya menempel di sisi selatan bangunan barak pengungsian para lansia.

Linda mengklaim pembangunan bilik belum selesai. Kedepannya bilik ayah bunda tersebut akan dilengkapi pagar atau garis pembatas. Pemasangannya mengitari bilik berwarna putih tersebut.

“Belum rampung kok itu, nanti ada pagar pengamannya. Kalau di dalam sudah dilapisi dengan bahan yang tidak tembus. Kalau lokasi sebenarnya sesuai arahan Pak Kades, Pak Sekdes. Lokasinya yang direkomendasi di situ,” katanya.

Menilik sisi dalam bilik, terdapat satu buah kasur tanpa ranjang. Hanya beralaskan tikar sebagai pembatas dengan tanah. Lalu di sudut timur terdapat cermin. Sementara sisi barat terdapat rak dan air mineral.

Setiap dinding berhiaskan poster pemandangan alam. Mulai dari flora, pemandangan tebing hingga pepohonan. Poster-poster tersebut menempel di dinding bilik.

“Juknisnya kalau mau ada yang memakai itu harus pasutri sah yang ada di barak pengungsian. Lalu diwajibkan lapor ke pos keamanan. Durasi penggunaannya dibatasi dan dilarang semalam suntuk,” tegasnya. (dwi/tif)

Sleman