RADAR JOGJA – Ketua Komisi A DPRD Sleman Anik Martanti mempertanyakan esensi keberadaan Bilik Ayah Bunda di barak pengungsian Glagaharjo, Cangkringan. Secara umum, bilik ini diperuntukkan bagi suami istri yang ingin memadu asmara saat mengungsi.

Berdasarkan data, mayoritas pengungsi adalah kelompok rentan. Terdiri dari pengungsi usia bayi, balita, anak, ibu hamil hingga lanjut usia. Artinya pemenuhan kebutuhan biologis suami dan istri tidaklah mendesak.

“Terkait bilik ayah bunda sebaiknya jangan dulu. Karena yang dievakuasi saat ini kan baru kaum rentan dan anak-anak. Tidak pas,” jelasnya, ditemui usai meninjau barak pengungsian Glagaharjo Cangkringan, Senin (30/11).

Tak hanya fungsi, Anik juga menyoroti letak bilik tersebut. Letaknya menempel dengan gedung utama barak pengungsian. Artinya mobilitas pengungsi sangat tinggi. Terlebih anak- anak yang masih usia aktif.

Penamaan bilik juga dinilai tidak tepat. Bagi anak-anak, bilik ini seakan dianggap tempat bermain. Terlebih lokasinya yang memang berdekatan dengan barak pengungsian. Alhasil dia meminta agar instansi terkait mengevaluasi keberadaan bilik tersebut.

“Saya rasa lebih baik dialihkan ke salah satu huntap (hunian tetap) di sebelah barat pengungsian. Letaknya juga terlalu dekat (barak pengungsian), namanya bilik ayah bunda sehingga anak-anak kepikiran untuk apa,” pesannya.

Keberadaan bilik ayah bunda juga mengundang pertanyaan bagi para relawan. Mayoritas relawan bahkan tak sepakat dengan berdirinya tenda khusus ini. Alasannya, para penghuni barak adalah kelompok rentan.

Ketua Komunitas Siaga Merapi (KSM) Kalurahan Glagaharjo Rambat Wahyudi secara terang-terangan tak setuju. Menurutnya tenda untuk memadu kasih tersebut tidak berguna. Alasannya sederhana, belum ada pengungsi suami istri usia produktif di barak pengungsian Glagaharjo.

“Secara pribadi tidak setuju, di sini kan baru usia rentan. Kalau soal urusan gitu-gituan (hubungan suami istri) 90 persen tidak memikirkan. Tapi karena mungkin aturannya harus seperti itu, ya monggo,” ujarnya.

Walau begitu, Rambat memastikan tak ada larangan membangun bilik. Diketahui inisiator dari berdirinya bilik ini adalah Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk Sleman. Bilik mulai didirikan dari Minggu (29/11). Lokasinya menempel di sisi selatan gedung barak pengungsian.

“Di sini kan cuma ibu hamil, balita dan lansia. Otomatis lansia mikir nggon koyo ngono (berpikir seperti itu) sudah diabaikan. Monggo kami juga tak melarang, kami hanya menyediakan tempat. Tetapi patut dipertanyakan karena belum saatnya,” katanya. (dwi/tif)

Sleman