RADAR JOGJA – Jalur pendakian Gunung Merapi lewat jalur selatan (Kaliurang-Kinahrejo) dulu sempat menjadi jalur favorit para pendaki. Terutama era tahun 1990-an. Jalurnya cukup menantang, tapi memiliki pemandangan yang sangat indah.

Juru Kunci Merapi Mas Bekel Anom Suraksosihono memiliki cerita tersendiri mengenai jalur selatan pendakian. Menurut sosok yang akrab disapa Mas Asih ini, para pendaki di zaman dulu biasanya naik bus sampai ke Kaliurang.

Sesampainya di Kaliurang mereka berjalan melalui jalur pendakian selatan itu. Kemudian para pendaki mampir terlebih dahulu ke kediaman Mbah Maridjan di Kinahrejo, Cangkringan, Sleman. “Biasanya di rumah itu para pendaki ngisi buku tamu. Biar tahu orang mana dan berapa orang yang mau mendaki,” kata Mas Asih kepada Radar Jogja.

Buku tamu itu penting, agar jika sewaktu-waktu ada kecelakaan, misalnya ada pendaki yang jatuh atau kesasar, bisa diketahui identitasnya.

Mas Asih mengisahkan dulu ramai sekali pendaki yang melewati jalur selatan. Bahkan ketika akhir pekan atau musim liburan panjang tiba, rumahnya selalu ramai disinggahi para pendaki. “Kadang sampai tidak muat, harus singgah juga ke tempat tetangga,” ungkapnya.

Mas Asih sendiri memiliki pengalaman menarik mengenai jalur selatan. Ketika itu di tahun 1980-an. Namun ia tak ingat detail tahunnya. Ada pendaki yang terjatuh ke jurang.

Proses pencarian pendaki itu memakan waktu lama, karena medan yang berat dan teknologi yang belum secanggih sekarang. Bahkan proses pencarian memerlukan waktu 40 hari.

Ketika ditemukan, kondisi tubuh pendaki juga sudah tidak utuh lagi. “Waktu itu Bapak (Mbah Maridjan, Red) juga masih kuat. Jadi beliau juga ikut mencari ke atas,” ungkap pria 54 tahun yang kesehariannya sebagai karyawan di Fakultas MIPA UII Jogja ini. (kur/laz)

Sleman