RADAR JOGJA – Usaha kerajinan bambu warga Dusun Sundari, Tirtoadi, Mlati, Sleman lesu. Kini sebagian beralih menjual kerajinan rotan. Sebab, kerajinan bambu sepi peminat.

Ninik Sarini salah satunya. Pengusaha kerajinan bambu dusun tersebut. Peminat kerajinan bambu turun bersamaan adanya Pandemi Covid-19. Usaha bambu sempat mampet hingga Juni 2020. Nah, untuk tetap dapat eksis berjualan, maka dia banting stir jualan kerajinan rotan yang diambil dari pabrikan di Bandung. ”Produksi bambu tetap dilakukan, tetapi hanya saat ada
pesanan saja,” ungkap Ninik ditemui di Showroom lapaknya, Jumat (27/11).

Ninik mengaku, omzet per bulannya merosot hingga 75 persen. Misalnya, saat lebaran kemarin. Yang biasanya permintaan mencapai 20-30 set kursi bambu, hanya terjual kurang dari lima set. Bahkan setiap bulannya belum tentu satu set kerajinan bambu terjual. Namun sejak beralih ke kerajinan rotan, mulai ada peminatnya lagi. ”Mulai ada pemasukan lah meski dikit-dikit,” kata wanita 44 tahun itu.

Menurut dia peminat kerajinan bambu turun tak hanya karena pandemi. Tetapi karena perhitungan dari kontainer. Banyak kontainer yang lebih memilih mengangkut kerajinan rotan dibandingkan bambu. Bambu lebih berat dari rotan. Disisi lain lebih murah. Bambu juga lebih ribet mengangkutnya dibanding rotan karena lebih memuat banyak. ”Apalagi bambu memakan
banyak ruang. Jadi itu alasannya,” katanya. Persaingan pasar yang ketat
membuat pengrajin sulit bertahan dan memilih profesi baru. Dia menceritakan, masa kejayaan kerajinan bambu tersebut terjadi pada 2003 hingga sekitar 2005.

Saat itu bahan baku bambu mudah didapat, peminatnya juga banyak. ”Bahkan hasil sekali angkut satu kontainer bisa untuk ngreyen kendaraan,” ujarnya. Namun belakangan ini, kata dia, pemasaran melalui online mulai dilakukan. Bahkan tak jarang peminat bambu maupun rotan dia dapatkan melalui market place.

Lain halnya Sri Rahayu. Sesama pengrajin di dusun tersebut. Dia memilih bertahan dan tetap memproduksi kerajinan bambu, meski peminatnya menurun. ”Peminat masih ada seperti kere dan gazebo yang lebih banyak,”
ungkapnya.

Dia mengatakan, ada peningkatan permintaan dalam empat bulan terakhir ini. Yang awalnya penghasilan hanya didapat kurang dari Rp 1 juta per bulan. Kini
setidaknya Rp 3 juta-Rp 4 juta per bulan rata-rata omzetnya. Kendati begitu, tidak menutup kemungkinan juga berjualan kerajinan rotan, jika memang terdapat permintaan. ”Ini usaha turun temurun yang kami coba pertahankan,” terang Sri Rahayu. (mel/pra/rg)

Sleman