Tiga mahasiswa Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) dari Prodi Pendidikan IPA Fakultas MIPA, melakukan penelitian dengan memanfaatkan air kelapa dan ekstrak buah tomat. Mereka adalah Fitri Nur Aini, Afni Nirwana, dan Talcha Ainun Rima Nurfajri. Hasilnya?

SEVTIA EKA NOVARITA, Sleman, Radar Jogja

RADAR JOGJA – Hasil penelitian menunjukkan, pemberian variasi penyiraman menggunakan ekstrak tomat masak pada tumbuhan cabai menghasilkan tinggi tanaman yang lebih baik. Dibandingkan dengan penyiraman menggunakan air kelapa saja, air biasa atau paduan antara air kelapa dan ekstrak tomat.

Hal ini diduga adanya komposisi kimiawi seperti vitamin dan karbohidrat pada buah tomat masak. Juga memiliki kandungan yang lebih banyak dibandingkan buah tomat yang masih muda. Komposisi kimiawi yang lebih baik itu karena mengandung zat pengatur tumbuh seperti auksin.

“Yang berfungsi untuk merangsang perpanjangan sel pada daerah titik tumbuh,” jelas Ainun melalui keterangan tertulisnya Rabu (25/11). Bahan yang digunakan adalah bibit tanaman cabai merah, air kelapa, ekstrak buah tomat, air, tanah dan pasir.

Alat yang digunakan juga cukup sederhana. Gelas beaker, gelas ukur, polybag, pengaduk, timbangan analitik, blender, kain halus, mistar, benang, pisau, kamera dan alat tulis. “Langkah awalnya adalah membuat ekstrak tomat” ungkapnya.

Buah tomat yang digunakan adalah buah segar dan bebas dari hama. Tomat kemudian dicuci dan di potong untuk menghilangkan biji. Seberat 500 gram tomat dihaluskan dan dibungkus dengan kain halus. Bahan yang telah halus seberat 20 gram kemudian ditambah air 80 mililiter. Kemudian suspensi kental disaring menggunakan kain kasa. Hasil saringan itu disebut sebagai larutan stock.

Untuk tanaman, cabai merah ditanam dalam 4 wadah. Wadah pertama disiram volume air 50 mililiter tanpa penambahan air kelapa dan ekstrak buah tomat. Wadah kedua hanya diberi 50 mililiter air kelapa murni dan wadah ketiga dengan volume ekstrak buah tomat 50 mililiter tanpa penambahan air kelapa.
“Dan wadah keempat disiram air kelapa 25 mililiter ditambah ekstrak buah tomat 25 mililiter. Penyiraman dilakukan dua kali pada pagi dan sore hari.

Pengamatan dilakukan tepat setelah dilakukan penyiraman dengan mengukur perubahan tinggi tanaman dan jumlah helaian daun pada tanaman,” katanya.
Penilitian yang dilakukan, lanjut Fitri, bermula dari banyaknya limbah pertanian dan agroindustri yang kurang dimanfaatkan. Limbah yang digunakan berupa air kelapa dan ekstrak tomat, selain mengandung auksin juga mengandung sitokinin. Yang berfungsi dalam perpanjangan sel, terlebih pada pertumbuhan dan jumlah daun tanaman.

Air kelapa mengandung mineral antara lain natrium (Na), kalsium (Ca), magnesium (Mg), ferum (Fe), cuprum (Cu), fosfor (P) dan sulfur (S). Selain kaya mineral, air kelapa juga mengandung gula antara 1,7 persen sampai 2,6 persen. Protein 0,07 persen hingga 0,55 persen. Serta mengandung berbagai macam vitamin seperti asam sitrat, asam nikotina, asam pantotenal, asam folat, niacin, riboflavin, dan thiamin.

Sedangkan ekstrak tomat mengandung berbagai mineral seperti kalsium (Ca), magnesium (Mg), fosfor (P), kalium (K), natrium (Na) dan sulfur (S) yang memiliki banyak manfaat untuk pertumbuhan tanaman. “Seperti metabolisme tanaman, respirasi dan pertumbuhan sel, serta pembentukan enzim,” ungkapnya. (laz)

Sleman