RADAR JOGJA – Titik terang awal mula sebaran kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) di salah satu pondok pesantren (ponpes) di Kapanewon Gamping mulai terlihat. Berawal dari seorang santri yang mengeluh sakit. 

Berdasarkan laporan medis, sakitnya santri tersebut memiliki gejala Covid-19.

Pasca temuan, pengelola langsung melakukan pemeriksaan. Hasilnya berkembang menjadi 78 kasus. Dari total tersebut, beberapa tak bergejala. Seperti hilangnya indera penciuman dan indera pengecap.

“Penularan Covid-19 diawali oleh satu santri yang melakukan rapid test. Sebelumnya santri tersebut memang menunjukan gejala Covid-19. Kalau total data terakhir ada 78 kasus,” jelas Kabid Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan Sleman Novita Krisnaeni, Kamis (26/11).

Novita menjelaskan kemunculan awal kasus terjadi sepekan lalu. Upaya pemetaan sebaran kasus berlangsung intens untuk meminimalisir sebaran kasus di lingkungan ponpes. Hasil tracking kasus menunjukan adanya interaksi erat. 

Berdasarkan data medis, para santri terdiri dari jenjang pendidikan SMP dan SMA. Seluruhnya telah menjalani isolasi mandiri di fasilitas milik ponpes. Pihaknya juga berkoordinasi dengan Satgas Covid-19 tingkat desa.

“Karena kami melihat ponpes tersebut bisa dan mampu melakukan  isolasi mandiri terhadap santrinya. Tapi tetap ada pengawasan oleh satgas Covid-19 tingkat desa dan Puskesmas,” katanya.

Gejala yang dialami para santri beragam. Diantaranya batuk, pilek, dan hilangnya indera penciuman dan pengecapan atau anosmia. Dari total gejala yang muncul, mayoritas adalah anosmia.

Tak hanya tracing dan tracking, Dinkes Sleman juga memberikan rekomendasi kepada pengelola ponpes. Berupa penyemprotan disinfektan ke seluruh lokasi. Khususnya titik utama penularan di lingkungan ponpes. Disinfeksi ini berlangsung selama 3 hari berturut-turut.

“Kami juga meminta satgas Covid-19 di ponpes harus lebih diperkuat. Artinya, ketika ada pelanggaran Covid-19 ada semacam teguran. Protokolnya disiplin jangan disepelekan,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman