RADAR JOGJA – Tim Pemenangan Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa membentuk Gugus Tugas Anti Money Politics. Gugus tugas ini bekerja untuk mencegah dan melaporkan terjadinya praktik politik uang (money politics) pada perhelatan Pilkada 2020 Sleman yang akan digelar 9 Desember mendatang. Selama dua hari terakhir tim ini bahkan telah menemukan dugaan terjadinya praktik jual-beli suara oleh paslon tertentu.

Ketua Tim Pemenangan Kustini Sri Purnomo–Danang Maharsa, Totok Hedi Santosa mengungkapkan telah menerjunkan seluruh sumberdaya partai koalisi serta elemen masyarakat ke lapangan. Untuk mengawasi berlangsungnya hajatan politik ini hingga penghitungan suara.

Jika ada yang mendapati terjadinya suap atau jual-beli suara, dia meminta masyarakat melaporkan ke posko dengan disertai bukti-bukti.“Jadi siapapun jangan coba-coba melakukan money politics,”tegasnya. “Kami telah membentuk tim yang beranggotakan ribuan orang untuk turun hingga tingkat padukuhan. Masyarakat yang menghendaki Pilkada Sleman kali ini berlangsung jujur dan bersih, mari kita awasi bersama,” ajak Totoksaat konferensi pers di kantor DPC PDI Perjuangan Sleman, Rabu (25/11).

Hadir pada acara tersebut seluruh pimpinan partai koalisi. Terdiri atas PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Gelora, dan Partai Demokrat.
Totok Hedi mengatakan, gugus tugas sudah terkoordinasi di setiap padukuhan. Dengan jumlah personel 15-20 per padukuhan. Mereka terdiri atas kader-kader PDI Perjuangan, PAN, Gelora, Demokrat, satgas partai, dan elemen masyarakat lainnya.

Sejauh ini gugus tugas telah menemukan indikasi money politics di beberapa tempat. Di antaranya, di wilayah Kalurahan Madurejo dan Bokoharjo (Kapanewon Prambanan), Wedomartani (Ngemplak), Sidoarum (Godean), Tridadi (Sleman), Condongcatur (Depok), dan Sendangadi (Mlati). Sejumlah warga menerima amplop berisi uang dan contoh surat suara paslon nomor urut tertentu. “Kami berharap ketegasan Bawaslu menindak tegas kasus tersebut,” desaknya.

Dikatakan, gugus tugas ini merupakan gerakan swadaya yang berfungsi mencegah dan melaporkan dugaan terjadinya politik uang. Sedangkan untuk langkah penindakan, jelas Totok, tetap menjadi kewenangan Bawaslu dan kepolisian. Untuk itu pihaknya akan bersinergi dengan kedua institusi tersebut sehingga gerakan pencegahan money politics bisa semakin masif.

Totok menegaskan, Tim Pemenangan Kustini Sri Purnomo-Danang Maharsa sangat serius menjalankan gugus tugas tersebut karena menginginkan bupati dan wakil bupati Sleman dipilih berdasarkan hati nurani dan melalui proses demokrasi yang jujur. Sedangkan praktik politik transaksional, selain mencederai demokrasi juga merugikan masyarakat karena akan melahirkan pemimpin yang hanya bermotif ambisi pribadi.

Tak hanya tegas terhadap paslon lain, Totok Hedi juga berpesan kepada seluruh lapisan masyarakat pendukung Kustini-Danang untuk tidak melakukan hal serupa. “Yang pasti kami sudah memulainya di internal sendiri.Kami ingatkan jangan coba-coba melakukan bitingan. Nah, sekarang ini kami ingin memperluas gerakan karena sesungguhnya ini tugas bersama seluruh masyarakat Sleman,” ujar Totok Hedi.(*/yog)

Sleman