RADAR JOGJA – Keberadaan shelter Asrama Haji dan Rusunawa Gemawang yang sempat penuh beberapa waktu lalu. Untuk itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman mulai merencanakan fasilitas kesehatan darurat Covid-19 (FKDC) atau shelter lain di wilayah Kalasan.

Hanya, rencana tersebut ditunda lantaran ada beberapa universitas yang menawarkan ruang perawatan bagi pasien Covid-19 asimptomatik.
Kepala Dinkes Sleman Joko Hastaryo menjelaskan universitas yang telah menawarkan yakni, Universitas Aisyiah (UNISA) Jogjakarta dan Universitas Islam Indonesia (UII) yang menawarkan fasilitas untuk shelter. ”Masih mematangkan tawaran yang ada sebagai alternatif shelter pasien asimptomatik,” jelasnya Selasa (24/11).

Menurut Joko, UNISA menawarkan asrama dengan 50 kamar yang berada di ring road Barat untuk bisa digunakan sebagai ruang isolasi mandiri. Jika dimaksimalkan, ruangan bisa dihuni oleh dua pasien dengan total keseluruhan mencapai 100 pasien.

Saat ini, kamar yang ada juga telah digunakan untuk isolasi bagi warga Muhammadiyah. “Dan mereka tidak keberatan jika ada tambahan dari luar untuk isolasi mandiri di asrama tersebut,” kata Joko.

Pihak UNISA, lanjut Joko, meminta agar Pemkab Sleman turut mengeluarkan biaya operasional. Hal ini karena dari sisi sumber daya manusia, UNISA hanya mampu membantu 5 sampai 6 orang tenaga kesehatan. Sedangkan untuk tiga kali shift, bisa membutuhkan sampai 8 orang tenaga kesehatan. Nantinya, Joko akan memaksimalkan tenaga kesehatan yang ada di puskesmas wilayah Sleman.

Sementara itu di bagian lain, Joko mengatakan empat tidur critical di Sleman belum terisi penuh. Hal ini karena dari 27 tempat tidur critical yang tersebar di RS wilayah Sleman, baru 9 ruangan yang terisi pasien positif Covid-19. Jika digabung, tempat tidur critical di Sleman adalah 44 ruang.

Dijelaskan tempat tidur critical untuk penanganan pasien Covid-19 di Sleman selain Sardjito adalah RS JIH, RSA UGM, PKU Muhammadiyah Gamping, RSUD Prambanan, hingga RSUD Sleman. Ruang isolasi critical, lanjut Joko, memang hanya berjumlah sedikit. Bahkan, ada rumah sakit yang hanya memiliki satu ruang ICU yang diperuntukan bagi tempat tidur critical Covid-19, ”Atau malah tidak punya sama sekali seperti di RSUD Prambanan hanya satu,” lanjut Joko.

Sementara itu, Kepala Instalasi Pemasaran, Hubungan Masyarakat, Informasi dan Layanan Pelanggan RSA UGM Sri Nenggih Wahyuni menuturkan jika sesuai konfirmasi Ketua Tim Covid-19 RSA UGM, tersedia 5 tempat tidur ICU Covid-19. Hanya saja, 5 tempat tidur critical di RSA UGM saat ini dalam kondisi penuh.

Nenggih menambahkan, jika ruang perawatan untuk pasien Covid-19 terpisah dari layanan non Covid-19. Yang mana, Poliklinik, Rawat Inap dan ICU Covid-19 di gedung Yudistira. Sedangkan untuk gedung Arjuna dengan akses masuk terpisah dengan layanan lainnya diperuntukkan untuk non Covid-19. “Yaitu melalaui lobi Utara. Jadi gedung dan pelayanan Covid-19 di RSA UGM terpisah dari layanan non Covid-19,” ungkapnya. (eno/bah)

Sleman