RADAR JOGJA – Berternak sapi perah sudah menjadi andalan warga lreng Merapi, khususnya di Kapanewon Cangkringan, Sleman. Di Dusun Plosorejo, Kalurahan Umbulharjo, misalnya. Sejak 2010 warga mulai berternak sapi perah. Mereka juga telah membentuk kelompok ternak bernama Ngudi Makmur Ngremboko.

“Di sini lahan memang masih luas. Tetapi potensi pertaniannya minim,” ungkap Sukamto, 48, warga setempat Minggu (22/11). Kamto, sapaannya, mengatakan, lahan hanya bisa produktif seketika musim hujan. Itu pun cenderung ditanami palawija yang hasilnya tak seberapa, karena jenis tanahnya lahan pasir.

Sementara ini warga hanya memfungsikan lahannya untuk berkebun. Menanam alpukat, melinjo, kelapa, sayur-sayuran dan buah-buahan lainnya yang jumlah tanamannya terbatas. “Dua, tiga bulan belum tentu bisa dipanen,” ungkapnya.
Tanaman tersebut hanya mampu diandalkan untuk konsumsi pribadi sebagai upaya menjaga ketahanan pangan. Terlebih saat pandemi Covid-19 seperti ini. Mampu menopang kebutuhan pangan. Minimnya pemasukan, sehingga warga harus pandai dalam mengatur keuangan.

Untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari, pria berusia 48 tahun itu bekerja sebagai buruh serabutan dan berternak sapi. “Dulu sapi PO, sejak 2010 dapat bantuan pengembangan sapi perah,” katanya.

Dia mengatakan, potensi ternak sapi di wilayahnya sangat bagus. Lahan rerumputan masih luas, sehingga menjadi faktor warga tertarik berternak sapi. Dalam sehari rata-rata produksi susu satu ekor sapi perah mencapai 10 hingga 15 liter untuk ras sapi campuran atau F2. Dan, 20 liter untuk sapi ras import (F1).

Sementara harga susu per liternya mencapai Rp 7 ribua-an dijual ke pengecer dan Rp 6 ribu dijual ke koperasi setempat. “Susu diproduksi dua kali sehari, pagi dan sore. Rata-rata per hari saya setor 40 liter dengan jumlah tiga ekor sapi,” terangnya. Dengan demikian dalam satu hari dia mampu mengantongi setidaknya Rp 200 ribu lebih. Meski sebagian juga dibelikan kosentrat khusus sapi perah.

Hal itu juga dirasakan Sumarti dari kelompok sapi perah Sidodadi, Dusun Weron, Umbulharjo. Dia mengatakan, berternak sapi perah jauh lebih berpotensi dibandingkan berkebun. Konsistennya terhadap peternakan ini, justru rela menyewa lahan untuk ditanami rumput pakan sapi.
“Ya kalau mau bertani, mau nanam apa. Di sini kalau kemarau susah air. Kalau nggak berternak, paling-paling ya ikutan menambang pasir atau bergerak di pariwisata,” tuturnya. (mel/laz)

Sleman