RADAR JOGJA – Puluhan tapak hewan liar diduga macan tutul muncul di jalur evakuasi Dusun Suruh – Dusun Singlar, Glagaharjo, Cangkringan. Tercatat setidaknya ada tiga tapak hewan yang tertinggal di beton jalur evakuasi. Dua pasang tapak berukuran besar dan empat pasang berukuran kecil dan sedang.

Babinsa Kalurahan Glagaharjo Koptu Eko Widodo menuturkan tapak hewan ditemukan Jumat dini hari (20/11). Tapak tersebut melintas dari arah timur menuju barat jalan. Kedua sisi jalan tersebut adalah semak belukar dan pepohonan tinggi.

“Warga melihat jejak satwa diduga macan tutul. Sebelumnya dini hari, pekerja proyek jalur evakuasi sempat melihat hewan itu lewat sekitar pukul 02.30. Kondisi jalannya gelap, tapi sempet lihat ukuran hewannya tidak lebih besar dari kambing dewasa,” jelasnya ditemui di lokasi temuan jejak kaki, Senin (23/11).

Pekerja proyek, lanjutnya, sedang mengecek pengerjaan jalur evaluasi. Saat akan melepas plastik penutup itulah hewan yang diduga macan tutul melintas. Saking takutnya, pekerja proyek langsung melarikan diri. Imbasnya kakinya terluka karena sempat tersandung dan jatuh.

Pagi harinya, warga sekitar berduyun-duyun mendatangi lokasi. Jejak tapak tiga hewan liar tertinggal di beton jalan. Eko memastikan lokasi tersebut memang perlintasan hewan liar. Hanya saja kebetulan jejak kali ini tertinggal di beton yang belum mengering. 

“Dari jejak ada sekitar 2 sampai 3 ekor. Satu dewasa dominan besar ada juga yang kecil tapi ada juga tapak ukuran kaki remaja,” katanya.

Walau begitu, Eko memastikan fenomena ini bukan karena aktivititas Gunung Merapi sebab jalur tersebut memang perlintasan bagi hewan habitat Gunung Merapi. Salah satunya macan tutul.

“Disini adalah perlintasan daripada satwa, bukan karena aktivititas Merapi lalu satwa turun. Tapi memang kalau perlintasan kali ini sedikit turun beberapa meter dari jalur biasanya,” ujarnya.

Temuan ini bukanlah hal baru bagi warga sekitar, khususnya Dusun Ngancar. Wilayah ini memang masih didominasi semak belukar dan pepohonan. Bahkan sudah hutan pepohonan saat memasuki sisi yang lebih dalam.

Eko menceritakan, temuan serupa pernah terjadi medio 2018. Kala itu, warga sekitar sempat melihat aktivititas hewan liar. Berdasarkan fisik, dugaan sementara adalah kucing besar jenis macan tutul.

“Tahun 2018 itu setelah freatik. Semlat terlihat 4 ekor, satu induk dan 3 anakan tapi masih kecil. Lalu TNGM meneliti, tinggal 2 anaknya. Ketiga kalinya tinggal 1 anaknya tapi sudah remaja,” katanya.

Warga lanjutnya, juga tetap beraktivitas secara normal. Terlebih belum ada laporan konflik antara macan tutul dengan warga. Seperti serangan di kandang ternak atau langsung kepada warga. Ini karena habitat alami macan tutul masih terjaga.

“Warga tidak terganggu dan macan juga tidak mengganggu warga. Laporan hewan ternak yang dimangsa juga tidak ada. Kalau pakan alaminya landak, musang, lalu tupai karena dia kucing pemanjat,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman