RADAR JOGJA – Masyarakat di sebagian wilayah Kabupaten Sleman Minggu (22/11) dini hari dikagetkan dengan suara gemuruh. Banyak yang mengira suara gemuruh selama beberapa kali itu berasal dari Gunung Merapi yang sedang naik aktivitasnya.

Salsabila Yanar, salah satunya. Mahasiswa UGM itu mengaku sempat terbangun dari tidurnya ketika gemuruh itu terdengar. “Sempat mati lampu juga, karena kondisi Merapi sekarang siaga, jadinya langsung terbayang soal Merapi,” katanya kepada Radar Jogja Minggu.

Sementara itu, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) sebelumnya sudah menyampaikan terkait peringatan dini cuaca di wilayah Jawa Tengah dan DIJ. Dalam peringatan bertanggal 22 November itu disampaikan, beberapa wilayah di Jawa Tengah bagian selatan dan Sleman, berpotensi terjadi hujan sedang hingga lebat, yang dapat disertai kilat atau petir dan angin kencang.

Seperti yang dikonfirmasi oleh Kepala Stasiun Klimatologi BMKG Jogjakarta Reni Kraningtyas. “Gemuruh itu dari cuaca yang memang kami sudah perkirakan akan ada hujan lebat. Tidak hanya di Sleman, tapi di hampir semua wilayah DIJ,” jelasnya.

Sementara itu hingga Minggu (22/11) siang status Gunung Merapi masih ada di level III atau siaga. Menurut pantauan dari Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) pada pukul 06.00-12.00, Merapi tertutup kabut yang membuat asap kawah tidak teramati.

Guguran teramati satu kali jarak luncur maksimal 1.000 meter ke hulu Kali Lamat dari Babadan, dan terdengar lemah satu kali dari Kaliurang. Sementara kegempaan terdapat 17 kali guguran di Gunung Merapi dengan amplitudo 3-75 mm berdurasi 7-80 detik. Untuk gempa vulkanik dangkal terjadi delapan kali dengan amplitudo 33-75 mm dan berdurasi 12-48 detik.

Enam Barak Siap Diaktifkan

Enam barak pengungsian selain di Glagaharjo akan diaktifkan jika status Gunung Merapi dinaikkkan ke level tertinggi atau awas. Enam barak itu tersebar di beberapa kalurahan yang saat ini sudah siap digunakan.

Panewu Cangkringan Suparmono menjelaskan, enam barak itu adalah Barak Gayam, Argomulyo dengan dua lokasi penyangga yakni SD Bronggang dan SMP Sunan Kalijaga, dan Barak Randusari Argomulyo. Ada pula Barak Kiyaran Wukirsari, Barak Brayut Tanjung Wukirsari, Barak Plosokerep Umbulharjo, serta Barak Desa Kepuharjo dengan satu lokasi penyangga yakni gedung SMK.

Untuk Barak Gayam di Argomulyo, lanjut Suparmono, mampu menampung pengungsi hingga 360 orang. Sedangkan barak Desa Kepuharjo mampu menampung 150 orang. Untuk keempat barak yang lain, kapasitasnya hampir sama dengan Barak Gayam Argomulyo. “Selain barak yang ada di Cangkringan, akan disiapkan juga barak di Ngemplak,” kata Suparmono Minggu (22/11).

Belum adanya status kenaikan Merapi, saat ini barak yang diaktifkan masih di Glagaharjo saja. Sedangkan barak lain yang sudah disiapkan masih menunggu rekomendasi dari Balai Penyeledikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) untuk diaktifkan dan digunakan. “Karena kalau status Merapi naik, warga harus mengungsi dan barak akan kami aktifkan,” tambahnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Sleman Joko Hastaryo menuturkan, saat ini Barak Pengungsian Banjarsari, Glagaharjo masih ada di dalam zona hijau. Meskipun Kapanewon Cangkringan termasuk zona merah, tiga kalurahan di wilayah itu masih dalam zona hijau.

Selain Glagaharjo, Umbulharjo dan Kepuharjo masuk dalam kategori itu. Sedangkan dua lainnya yakni Argomulyo dan Wukirsari masuk dalam zona merah karena masih ada kasus positif aktif. “Kasus positif di Cangkringan yang berada di Argomulyo ditemukan satu kasus, sedangkan dua kasus ditemukan di Wukirsari,” kata Joko.

Saat ini, lanjut Joko, Dinkes juga sedang menyiapkan antisipasi barak tambahan di Padukuhan Gayam, Argomulyo. Meskipun Argomulyo saat ini berstatus merah lantaran ada satu kasus positif, ketika di-breakdown di tingkat padukuhan, Gayam masih berstatus zona hijau. Selain itu, kasus positif itu juga lokasinya berjauhan dengan rencana lokasi barak tambahan.

Untuk memastikan para pengungsi, relawan dan petugas bebas dari Covid-19, Joko mengatakan dalam waktu dekat akan melakukan swab antigen. Mengingat ada 2.500 alat swab antigen yang disumbangkan oleh BNPB beberapa waktu lalu. “Nanti kami tetap akan melakukan rapid test antigen di pengungsian Glagaharjo,” ungkapnya. (kur/eno/laz)

Sleman