RADAR JOGJA – Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Wilayah I Balai TNGM Wiryawan belum bisa memastikan jenis hewan pemilik tapak kaki di Dusun Ngancar, Glagaharjo Cangkringan. Diketahui beberapa jejak kaki hewan liar menapak di jalan evakuasi penghubung Dusun Suruh dan Dusun Singlar. Setidaknya ada tiga hewan dari jumlah jejak kaki yang ditemukan.

Wiryawan memastikan pihaknya masih melakukan kajian guna mengetahui jenis hewan pemilik jejak tapak tersebut. Diawali dengan pendokumentasian jejak kaki dan identifikasi habitat satwa liar di sekitar lokasi.

“Ini masih dalam kajian kami. Kalau ujung jejak ada, biasanya bukan macan. Tapi kami belum bisa ambil kesimpulan, walau info di masyarakat ada yang bilang lihat macan,” jelasnya, dihubungi melalui sambungan telepon, Senin (23/11).

Menurutnya, keterangan warga tidak bisa sepenuhnya menjadi acuan. Terlebih data yang disajikan tidak terlalu kuat. Seperti adanya dokumentasi visual berupa foto atau video.

Langkah pendataan telah dilakukan. Terlebih temuan ini bukan kali pertama di wilayah Cangkringan. Pihaknya telah melalukan pemasangan trap camera di sejumlah titik. Fokusnya adalah titik di perlintasan satwa liar kawasan lereng Gunung Merapi.

“Ada banyak satwa yang terdokumentasi tapi belum trlihat ada macan. Kami pasang di daerah Dukun, Srumbung, Kaliurang dan Cangkringan. Ada 20 titik pemasangan,” katanya.

Keterangan dan kesaksian warga turut melengkapi pendataan. Terutama yang pernah melihat langsung satwa liar tersebut. Jajarannya juga berkoordinasi dengan BKSDA DIJ. Ini karena beberapa temuan juga ditemukan di luar wilayah Balai TNGM.

“Beberapa jejak yang ditemukan di luar Balai TNGM kami koordinasikan dengan BKSDA DIY. Karena wilayah diluar TNGM itu tanggungjawab BKSDA,” ujarnya.

Kepala BKSDA DIJ Muhammad Wahyudi mengakui ada laporan jejak hewan liar di kawasan lereng Merapi. Pemasangan trap camera tak sepenuhnya mulus. Ini karena kawasan perlintasan hewan liar berdampingan dengan jalur mobilisasi penduduk.

Pihaknya juga tengah melibatkan civitas UGM. Khususnya yang terkonsentrasi pada pengelolaan satwa liar. Peran bersama Balai TNGM, lanjutnya, secara rutin melakukan identifikasi inventarisasi dan monitoring di sekitar taman nasional.

“Memang di wilayah Cangkringan dan sekitarnya agak kesulitan dipasang trap camera. Karena lalu lintas manusia di situ sudah banyak. Sehingga, beberapa kali trap camera hilang,” katanya. (dwi/tif)

Sleman