RADAR JOGJA – Sumedi Purbo konsisten bertani jamur sejak 1994 ketika belum banyak dikenal orang. Kini, jamur justru jadi buruan. Dan saat pandemi, permintaannya pun meningkat tajam.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Sleman, Radar Jogja

Jika berkunjung ke Dusun Grogol, Umbulharjo, Cangkringan, maka akan dijumpai Sanggar Tani Media Agro Merapi. Nah, di sinilah Sumedi Purbo kerap memberikan edukasi seputar budi daya jamur. Inilah ruang publiknya. Warga sekitar biasa meminta bimbingannya. Kadang juga warga dari luar daerah, itu sebelum pandemi.

Ada banyak jamur yang dikembangkan Sumedi. Mulai jamur lokal seperti jamur tiram, kuping, lingsi dan shitake. Ada pula jamur asal Jepang yakni jamur shimeji, milky (susu) dan enoki.

Pengembangan jamur itu dilakukan di belakang rumahnya. Tak tanggung-tanggung, total ada 15 kandang jamur yang tersebar di tiga titik. Dengan kapasitas lima ribu baglog per kandang. Selain di rumahnya, pengembangan juga dilakukan dengan jarak 400 meter dan 700 meter dari rumahnya. “Dulu sih faktor kepepet dan merasa jamur memiliki peluang besar,” kata Sumedi saat ditemui di rumahnya, Minggu (22/11).

Yang awalnya sempat pesimistis karena hanya bermuara di pangsa ekspor, kini dia merasa lega karena jamur sudah lebih dikenal di pangsa pasar lokal. Bahkan daya serap terbesar justru di pasar tradisional. “Sebab, pangsa ekspor hanya saat tertentu saja. Hanya saat negara itu potensi jamurnya menurun dan saat panen impor distop,” bebernya.

Banyaknya varian menu atau masakan yang mengadopsi negara lain, jamur pun menjadi banyak digemari. Bahkan berbagai saran dia terima agar mengembangkan jamur dari Jepang. Jamur yang sedang hits dalam channel mukbang di Youtube. Hingga pandemi ini mulai dia rintis.

Dalam mengembangkan peluang ini berbagai hambatan dia tempuh. Tak terkecuali dampak pandemi Covid-19 ini. Saat awal pandemi, dia sempat kelimpungan. Produksi jamur terancam berhenti. Pabrik sebagai sumber bahan baku serbuk kayu tutup. Kehilangan banyak konsumen lantaran di sejumlah wilayah lowkdown. Ditambah lagi pasaran melesu. “Padahal saat itu sedang panen raya. Panenan jamur menumpuk hampir dua ton,” ucapnya.

Kendati begitu, dia tak patah arang. Tekadnya jika pasar selama ini tidak lagi bisa diandalkan, maka harus siap ubah mindset. Dia berupaya melek online untuk menjangkau konsumen. Yang semula gagap teknologi (gaptek) kini harus mengejar perkembangan zaman. Hingga tiba saatnya belajar marketplace. Jual beli online, membuka situs web dan channel Youtube.

“Alhamdulillah saat yang ditunggu tiba. Kondisi itu pun berbalik,” ungkapnya penuh syukur. Tiga bulan terakhir ini dia semakin aktif membuat video dengan menggandeng ahli digital. Jika biasanya seminggu sekali dia mengadakan pertemuan dan pelatihan-pelatihan, kini dia unggah di kanal Youtube.

Tak disangka, justru banyak permintaan. Ada permintaan bibit, permintaan pelatihan, bahkan berkat video itu banyak kelompok-kelompok tani yang tertarik bertani jamur. Permintaan pesat datang dari Kulonprogo. Bahkan satu kelompok tani ada yang memesan tiga ribu hingga lima ribu baglog jamur.
Selain itu permintaan juga dari Sanden, Wonogiri, dan sejumlah daerah DIJ. “Tak butuh lahan luas. Seratus meter persegi pun bisa tuai penghasilan jutaan per bulan,” ungkapnya.

Dia menjelaskan, menanam jamur sangatlah mudah dan fleksibel. Sebab, bisa ditanam dalam berbagai kondisi musim, hujan dan kemarau. Juga bisa ditanam di dataran tinggi hingga rendah.

Konsisten menggeluti pertanian jamur, dalam satu bulan dia mampu mengantongi omzet hingga ratusan juta. “Tanaman jamur ini bisa ditangguhkan untuk ketahanan pangan dan meningkatkan ekonomi,” tandasnya. (laz)

Sleman