RADAR JOGJA – Pengadaan tanah jalan tol di Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Tempel Kabupaten Sleman memasuki tahap pengukuran. Pengukuran secara virtual sudah dimulai November ini . Persyaratan dokumen pun juga telah dipenuhi. Harapannya Desember sudah sampai tahap apresial, pencocokan dokumen dengan fakta lapangan.

”Persiapan dokumen sudah klir. Tidak ada permasalahan bagi terdampak,” ungkap Lurah PJ Sumberejo, Tempel, Sleman Supardi beberapa waktu lalu.

Menurut dia, ada 11 persil tanah yang terdampak di Kalurahan ini. Jumlah  itu milik 11 Kepala keluarga (KK). Semua pemilik lahan sudah menandatangani kerelaannya untuk digunakan proyek jalan tol sepanjang 500 meter  tersebut.”Saat ini baru pengukuran secara virtual. Untuk riilnya, Badan Pertanahan Nasional (BPN) yang menentukan untuk diajukan apresial,” bebernya. Pengukuran non virtual , lanjut dia, baru dilaksanakan pada jalan tol Jogja-Solo. Dan itu hampir selesai. Selanjutnya dilakukan secara paralel jalur  Jogja-Cilacap, Jogja- solo dan Jogja -wilayah Jawa Tengah (Jateng).

Supadi  menuturkan, Sumberejo tepatnya di Dusun Celep menjadi titik exit tol. Terdapat sembilan persil tanah yang terdampak di titik ini. Kendati begitu, menurutnya ini menjadi peluang besar bagi masyarakat setempat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Terlebih di Kapanewonan Tempel ini terdapat tiga titik yang nantinya bakal ramai. Yakni, Kalurahan Banyurejo yang bakal menjadi junction, pertemuan tiga titik jalur tol. Selanjutnya di Kalurahan Tambakrejo.”Nah, peluang-peluang ini yang kami tangkap,” ucapnya.

Karena itu, pihaknya mendorong masyarakat setempat untuk meningkatkan produktivitas dan meningkatkan kemampuan yang ada. Kini, pihaknya telah menyiapkan lahan yang rencananya akan menjadi pusat perekonomian Kalurahan Sumberejo. Yakni, di lapangan dekat desa. Lahan itu untuk pengembangan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) dan kebudayaan.

Selain itu, di wilayah Barat akan dikembangkan Taman Moerdoningrat sebagai pusat rekreasi dan wisata religi. Dikelola kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) dan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).  Di sana akan dijadikan pusat trekreasinya. Mungkin ada jalur untuk gowes. Dengan peluang tersebut diharapkan warga terus berinovatif menangkap peluang. Sehingga dapat meningkatkan perekonomian warga.

Sebelumnya, Kepala Dinas Pariwisata (Dispar) Sleman Sudarningsih memaparkan, adanya jalan tol tersebut, pihaknya telah  menyiapkan konsep wisata. Di wilayah Barat misalnya akan di fokuskan desa wisata berbasis pertanian. Menyambut akses Yogyakarta International Airport, Pemkab Sleman mewacanakan akan membangun penanda di pintu masuk perbatasan.

Lalu di Kawasan tengah, bakal dilakukan pengembangan wisata untuk mendukung Pariwisata Borobudur dan Kawasan Stategis Pariwisata Nasional (KSPN) Merapi-Merbabu, Prambanan dan wisata berbasis budaya di sekitarnya.”Multiplier effect adanya exit tol memberi pengaruh positif, mendukung wisata kuliner dan wisata belanja produk UMKM bagi pelancong yang berkunjung ke Sleman,” tuturnya. (mel/pra)

Sleman