RADAR JOGJA – Evakuasi hewan ternak di dusun Kalitengah Lor terus bertambah. Dari total 219 ekor ternak jenis sapi, sebanyak 162 ekor di antaranya telah berada di barak ternak. Terbagi di kandang komunal, kandang darurat hingga titip di kandang milik warga.

Warga Kalitengah Lor, Ratno, mengaku ayem setelah sapi miliknya terevakuasi. Pria kelahiran 1973 ini tak ingin kejadian erupsi Merapi 2010 terulang lagi. Kala itu 2 ekor sapi miliknya mati tersapu awan panas Gunung Merapi.

“Ada tawaran evakuasi ternak ya ikut saja. Masih trauma (erupsi Merapi) 2010, karena saat itu ternak saya mati semua. Jadi saat ada ajakan evakuasi ternak ya mau saja,” jelasnya ditemui di barak ternak Glagaharjo, Jumat (20/11).

Agar lebih ayem, Ratno tidur tak jauh dari barak ternak. Tepatnya di sisi utara dari kandang evakuasi tersebut. Sebuah tenda sederhana didirikan oleh para pemilik ternak. Total ada 12 warga yang tidur di tenda darurat tersebut.

“Ya enggak nyaman, tapi mau gimana lagi. Semalam tidur disini, tapi banjir karena hujannya deres. Kalau besar ya pindah sementara,” ceritanya.

Trauma mendalam dialami oleh Ratno dan masih terpatri hingga sekarang. Saat kondisi Merapi meningkat, rasa panik melanda. Apalagi pria ini juga berprofesi sebagai peternak.

Sejatinya Ratno memiliki tiga ekor sapir. Hanya saja, dua di antaranya telah dijual. Alasannya, dia tak ingin repot saat merawat sapi dalam barak ternak. Perawatannya tentu berbeda dengan di rumahnya.

“Dua sudah saya jual, indukan plus anaknya. Djual karena takut repot kalau merawatnya sambil mengungsi. Jadi lebih baik yang 2 ekor dijual saja. Uangnya buat pegangan sama beli pakan ternak,” katanya.

Tak hanya Ratno, Puji Utomo juga memilih untuk tidur di dekat barak ternak. Dia ingin menjaga dan merawat sapi-sapi miliknya. Mulai dari memberi pakan hingga membersihkan kandang darurat tersebut.

“Ini sama warga yang lain, yang punya ternak ikut tidur di sini. Ya seadanya, kalau hujan ya pindah ke barak ternak. Kan ada yang belum dipakai,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman