RADAR JOGJA – Kemungkinan terjadinya lahar dingin ke Kali Gendol, sebanyak 22 sabo dam dipastikan dalam kondisi baik. Sabo dam yang ada di Kali Gendol ini mampu menampung volume lahar dingin mencapai 1.350.000 meter kubik.

Kabid Operasi dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) Pramono menjelaskan, 22 sabo dam dilengkapi sand pocket yang dapat menampung sedimen 589.000 meter kubik. BBWSO juga telah berkoordinasi dengan Balai Penyeledikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), khususnya di Pos Pengamatan Gunung Merapi (PGM) Kaliurang dan Babadan.

Pramono menambahkan, sekitar 272 sabo dam ada di 15 sungai yang berhulu di Merapi. Mulai dari Kabupaten Boyolali, sabo dam berada di Kali Apu. Sedangkan di Kabupaten Magelang, sabo dam berada di Kali Pabelan, Senowo, Trising, Lamat, Blongkeng, Putih dan Bebeng. Serta di Kabupaten Klaten, sabo dam berada di Kali Woro. Untuk sabo dam wilayah DIJ, tersebar di Kali Krasak, Boyong, Kuning, Opak, dan Gendol. “Sebanyak 272 sabo dam itu memiliki daya tampung 13,9 juta meter kubik,” ungkapnya.

Pramono menuturkan, sabo dam yang paling terdampak banjir lahar dingin pada 2010 berada di Kabupaten Magelang. Tepatnya di Kali Putih yang mengakitbatkan ditutupnya jalan nasional Jogjakarta-Semarang. Untuk antisipasi kejadian serupa tidak terulang kembali, BBWSSO telah membangun diversion channel atau pengarah aliran Kali Putih tahun 2015-2017 dengan dana Loan JICA. Kali Putih telah dibangun sabo dam sejumlah 24 buah dan dapat mengendalikan lahar dingin sebesar 956.200 meter kubik.

Sementara itu, Kepala Seksi Mitigasi Bencana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman Djokolelono menuturkan, potensi banjir lahar dingin masih ada. Hanya saja tidak sebesar tahun 2010. Besar atau tidaknya nantinya ditentukan dengan banyaknya material yang tertumpuk di Merapi. “Selain itu tingginya curah hujan juga memengaruhi terjadinya banjir lahar dingin,” katanya.

Djoko mengaku, BPBD juga telah melakukan sosialisasi kepada warga, khususnya yang berada di sekitaran Kali Gendol. Mengingat kawah Merapi yang terbuka mengarah ke sungai ini. Pemantaun hujan sebelumnya juga dilakukan. Saat hujan deras di wilayah Merapi, air tidak sampai ke wilayah bawah. “Karena saat ini belum ada tumpukan material di puncak, cuma sisa-sisa material 2010,” lanjutnya.

Pihaknya juga memastikan early warning system (EWS) berfungsi dengan baik. Setidaknya ada 37 EWS yang dimiliki Kabupaten Sleman, baik EWS lahar dingin, awan panas, maupun tanah longsor. Alat peringatan dini itu berfungsi memberi peringatan kepada masyarakat jika terjadi banjir. “Paling tidak bunyi EWS itu sekitar 30 menit sebelum air datang, sehingga masyarakat bisa siap-siap,” kata Djoko.

Warga Kalitengah Lor, Glagaharjo, Cangkringan, Sleman, sempat khawatir dengan kandang penampungan yang dibangun di timur barak pengungsian Kalurahan Glagaharjo. Pasalnya, kandang di sisi timur lapangan itu langsung berbatasan dengan sungai.

Salah seorang warga Kalitengah Lor, Pardi Wiyono, 50, mengaku sempat khawatir saat melihat kandang penampungan. Hanya beratapkan terpal, sisi bagian belakang ternak adalah tanah dengan kemiringan curam dan tepat di bawahnya sungai.

Mempertimbangkan keselamatan ternak, masyarakat kemudian meminta kandang dilakukan perbaikan. Saat ini kandang yang ada mulai menghadap ke utara dan selatan. Dengan setiap kandang bisa diisi hingga 10 sapi. “Kandang sepertinya sudah bagus,” ungkap Pardi kemarin (18/11).

Setelah kandang dirasa aman, Pardi telah menurunkan satu ternak sapinya sejak Minggu (15/11). Untuk mencukupi kebutuhan rumput ternaknya, ia masih harus mencari pakan ke lereng Merapi. Meskipun merasa repot harus naik-turun, ia tidak mau ternaknya mati sia-sia seperti 2010. Sebelumnya, satu ternak miliknya sudah dijual ke blantik. Hal ini dilakukan sebelum kandang penampungan selesai dibuat. “Dengan harga Rp 16 juta,” lanjutnya.

Dukuh Kalitengah Lor Suwondo mengaku hingga saat ini masih ada 69 ternak sapi yang belum dievakuasi, 11 ekor sapi di antaranya ada di RT 01, 22 ekor di RT 02, 20 ekor sapi di RT 03, dan di RT 04 sebanyak 16 ekor. Dari data awal ternak sapi yang mencapai 294 ekor, saat ini sapi yang ada tinggal 218 ekor. Hal ini karena masyarakat lebih memilih menjual ternaknya. “Karena alasan tidak mau repot tadi,” katanya.

Ternak yang tersisa di padukuhan, akan segera dievakuasi saat kandang penampungan siap digunakan. Meskipun demikian, masih ada satu warga yang belum mau menurunkan ternaknya. Mengatasi hal itu, Suwondo masih melakukan pendekatan kepada warganya agar mau menurunkan sapinya nanti. Mengingat keluarga yang bersangkutan juga sudah berada di barak pengungsian.

Plt Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian,Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Nawang Wulan menuturkan, keinginan warga untuk penggantian kandang telah dilakukan. Terlebih kandang yang berada di paling timur dan utara akan diganti.

Meskipun kandang yang ada masih belum sesuai standar pemeliharaan ternak, nantinya kandang yang berada di lapangan barak pengungsian akan diperuntukkan bagi sapi potong. “Karena kalau untuk sapi perah akan mempengaruhi produksi susu,” kata Nawang.

Untuk kandang komunal Singlar, masih bisa ditambahkan 19 ekor sapi perah. Jika masih tidak mencukupi, pihaknya akan mengusahakan mencari kandang yang tidak terpakai milik warga sekitar barak pengungsian. “Jadi saat ini sudah ada 150-an sapi yang dievakuasi,” jelasnya.

Untuk memudahkan masyarakat mencukupi kebutuhan pakan, Nawang mengaku telah mempersiapkan armada pikap. Untuk mengangkut rumput dari Kalitengah Lor ke kandang tempat ternak dievakuasi. (eno/laz/by)

Sleman