RADAR JOGJA – Koordinator Lapangan Kesehatan Barak Pengungsian Glagaharjo Kalisvia Nurul Lita menyatakan ketersediaan obat-obatan mulai menipis. Terutama untuk kebutuhan tekanan darah tinggi atau hipertensi. Walau begitu kondisi kesehatan pengungsi relatif sehat.

Jenis-jenis obatan ini, lanjutnya, paling banyak dikonsumsi. Terlebih keluhan para pengungsi mayoritas adalah tekanan darah tinggi. Khususnya para pengungsi golongan lanjut usia.

“Keluhan biasanya yang diderita lansia di sini hipertensi, obatnya juga pas habis. Sudah ajukan ke Dinkes, permintaan sudah didrop dan mencukupi,” jelasnya ditemui di barak pengungsian Glagaharjo, Kamis (19/11).

Menurutnya keluhan hipertensi tergolong wajar. Para pengungsi sudah berada dua pekan di pengungsian. Beberapa dari mereka juga sudah merasa jenuh dan lelah. Kondisi ini dapat menyebabkan tekanan darah tinggi.

Tindakan medis tak hanya terkait pengobatan fisik. Para pengungsi juga mendapatkan pendekatan psikologis. Terutama para pengungsi yang masih menyimpan trauma pasca Erupsi Merapi 2010.

“Setiap Senin ada pendampingan psikolog dan kegiatan agama. Agar pengungsi tak hanya terobati secara fisik tapi juga mental rohaninya,” katanya.

Pihaknya juga rutin melakukan pemeriksaan kesehatan harian. Berdasarkan data terbaru ada 256 pengungsi di wilayah barak pengungsian Glagaharjo. Terbagi di tiga barak di lokasi yang sama.

Nurul menjabarkan ada 40 pengungsi yang memeriksakan kesehatan. Detilnya sebanyak 28 lansia di barak lapangan sisi barat, lalu 7 pengungsi di SD Muhammadiyah Cepitsari. Sisanya adalah para pengungsi baru di barak lapangan sisi timur. Adapula pendampingan psikis kepada orang dalam gangguan jiwa.

“Untuk yang barak lapangan timur itu baru. Mereka pemilik ternak yang ikut diungsikan ke lapangan. Tapi pemeriksaan kesehatan batu sebatas tensi saja,” ujarnya. (dwi/tif)

Sleman