RADAR JOGJA – Badan Nasional Penanganan Bencana (BNPB) menyalurkan bantuan kepada Pemerintah Kabupaten Sleman berupa 2.500 swab antigen Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) dan uang tunai sebesar Rp 1 Miliar. Seluruhnya guna penanganan pengungsi erupsi Gunung Merapi.

Bantuan nominal tak hanya diterima oleh Pemkab Sleman. Tercatat ada tiga kabupaten lainnya yakni Kabupaten Boyolali, Kabupaten Klaten dan Kabupaten Magelang. Masing-masing menerima nominal yang sama Rp 1 Miliar.

“Dalam kesempatan ini kami memberikan bantuan sebanyak 2.500 swab antigen Covid-19. Ini sebagai antisipasi sebaran Covid-19. Lalu uang tunai Rp 1 miliar kepada Pemkab yang terdampak ancaman erupsi Gunung Merapi,” jelas Kepala BNPB Letjen TNI Doni Monardo setibanya di barak pengungsian Glagaharjo, Kamis (19/11).

Mantan Danjen Kopassus ini meminta Pemkab memperhatikan seluruh kebutuhan pengungsi. Mulai dari kebutuhan pangan, obat-obatan dan pendampingan psikis. Terlebih mayoritas adalah kelompok rentan, yakni bayi, ibu hamil hingga lanjut usia.

Kondisi pandemi tentu menjadi catatan tersendiri. Disamping mitigasi erupsi Merapi juga ada penetapan protokol kesehatan (prokes) Covid-19. Tujuannya agar tak ada sebaran kasus Covid-19 di barak pengungsian.

“Ini jadi catatan penting bagi BPBD wilayah dan pemkab. Disamping memenuhi kebutuhan pengungsi tapi juga tetap menegakan prokes Covid-19,” katanya.

Bantuan swab antigen Covid-19 sendiri bertujuan sebagai penyisiran terhadap para relawan maupun pengungsi. Apalagi dalam kondisi darurat, mobilisasi manusia menjadi tinggi. 

Mekanisme pemanfaatan swab antigen melibatkan Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman. Organisasi perangkat daerah ini dianggap berkompeten dalam pendistribusian. Sehingga penggunaan antigen swab Covid-19 lebih optimal dan tepat sasaran.

Pemanfaatan swab antigen Covid-19 relatif cepat. Pasca pengambilan sampel, hasil keluar dalam kurun waktu tiga hingga lima menit. Akurasi alat penguji medis ini mencapai 80 persen.

“Dinkes pasti lebih paham kondisi lapangan. Apalagi penggunaan swab antigen harus dilakukan petugas medis yang sudah diberikan pelatihan,” ujarnya.

Langkah antisipasi lain adalah membatasi akses mobilisasi. Terutama para relawan yang akan masuk ke barak pengungsian. Diketahui bahwa relawan tak hanya berasal dari Jogjakarta. Beberapa datang dari luar daerah, termasuk daerah episentrum Covid-19.

“Jangan sampai ada orang baru datang. Kita tidak tahu kondisinya, tapi sudah positif Covid-19 apalagi asimtomatik. Tanpa gejala ini bahaya karena bisa menulari. Jangan sampai muncul klaster baru di pengungsian,” pesannya. (dwi/tif)

Sleman