RADAR JOGJA – Perbaikan jalur evakuasi di lereng Gunung Merapi terus dilakukan. Termasuk dengan memasang puluhan lampu penerangan jalan. Tidak hanya dipasang di lokasi rekomendasi BPPTKG, lampu penerangan juga dipasang di lokasi lainnya.

Plt Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kabupaten Sleman Arip Pramana menyebut, pemasangan lampu jalan juga dilakukan di daerah Umbulharjo di Cangkringan, serta Girikerto, Turi dan Purwobinangun, Pakem. Meski tiga daerah tersebut tidak masuk dalam rekomendasi Balai Penyeledikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Jogjakarta. “Pemasangan lampu jalan di Umbulharjo sudah selesai,” jelas Arip kemarin (17/11).

Saat menaikkan status Gunung Merapi menjadi Level II atau Siaga pada Kamis (5/11), BPPTKG Jogjakarta merekomendasikan wilayah yang masuk zona bahaya, yaitu di Kalitengah Lor, Desa Glagaharjo, Kaliadem, Desa Kepuharjo dan Pelemsari, Desa Umbulharjo. Yang semuanya masuk wilayah Kecamatan Cangkringan.

Pemasangan di ketiga wilayah non rekomendasi tersebut, adalah bentuk antisipasi. Terutama jika status kembali dinaikan dan wilayah rawan bencana diperluas. Tidak menutup kemungkinan, warga yang bukan dari wilayah rekomendasi akan ikut mengevakuasi diri saat terjadi erupsi. “Antisipasi kalau terjadi erupsi, warga ada juga rasa takut. Ya itu kami siapkan penerangan,” lanjutnya.

Arip menambahkan, pemasangan lampu jalan sudah dimulai sejak Selasa (10/11). Pemasangan lampu penerangan dilakukan untuk berjaga jika nantinya kejadian erupsi terjadi pada malam hari. Sebelum pemasangan di jalur evakuasi, prioritas pemasangan ada di sekitar pemukiman. Selanjutnya, pemasangan baru dilakukan di jalur evakuasi karena berupa wilayah tegalan.

Selain melakukan pemasangan, Arip mengaku jika nantinya Dishub melakukan perawatan. Nantinya jika didapati ada lampu penerangan yang tidak berfungsi, maka masyarakat bisa langsung melaporkan ke Dishub Sleman. “Kalau ada lampu yang mati biasanya unsur pemerintah desa memberi tahu ke kita,” jelas Arip.

Selanjutnya, lampu penerangan jalan umum juga akan dipasang di dua titik jalur evakuasi di Ngelosari, Purwobinangun. Serta pemasangan lampu di jalur evakuasi Girikerto, Wonokerto, Ngandong, dan Tritis depan Gardu. Sedangkan pemasangan stang dan armatur juga akan dilakukan dalam waktu dekat. Yakni di jalur evakuasi Glagah Malang dan di dekat Gapura masuk Kalurahan Glagajarjo. “Serta di depan panti asuhan Glagaharjo,” ungkapnya.

Antisipasi lain yang dilakukan Dishub, adalah dengan menerjunkan personel. Untuk berjaga di jalur penambangan. Setiap harinya, personel akan dibagi menjadi 3 shift. Untuk personel yang berjaga di shift pagi dan siang, jumlahnya ada 3 orang. Sedangkan untuk personel yang berjaga di malam hari, ada 4 orang.

Dari hasil pemantauan yang dilakukan, sudah tidak ditemukan truk tambang yang naik ke atas. Karena penambangan sudah banyak yang tutup. Hanya saja, aktivitas penambangan di sekitar Gadingan masih ditemukan. “Adanya di sekitar Gadingan. Itu kan jauh, 11 kilometer,” kata Arip.

Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD Sleman Gani Sadat mengapresiasi adanya tambahan penerangan lampu jalan di beberapa titik selain jalur evakuasi. Hanya saja, Gani masih menyoroti di wilayah Kepuharjo yang masih minim penerangan jalan. “Kalau untuk jalan di sana sudah bagus,” jelasnya.

Dalam waktu dekat, pihaknya akan segera berkoordinasi dengan Dishub Sleman terkait penambahan lampu jalan di wilayah tersebut. Selain itu, pihaknya juga berharap Pemkab Sleman untuk bisa mendirikan kandang evakuasi ternak lebih baik lagi. Jika hanya terbuat dari bambu dan terpal, warga takut jika malam hari ternak lepas. “Kemari sempat ada aduan kekhawatiran kandang yang dibuat,” lanjut politisi PDIP itu.

Persiapan barak, tambah Gani, juga harus dipersiapkan secara matang. Untuk mengantisipasi jika daerah rawan bencana diperluas oleh BPPTKG. “Dengan tetap memperhatikan sekat, dan sarana pra sarana penunjang protokol kesehatan,” kata Gani. (eno/pra)

Sleman