RADAR JOGJA – Pemuda memiliki peran penting dalam penanggulangan bencana alam. Terutama menghadapi dampak erupsi Gunung Merapi, yang saat ini berstatus siaga.

Potensi pemuda dalam antisipasi bencana perlu diwadahi. Agar sikap dan tindakan pemuda lebih terarah, terorganisasi, dan satu komando dalam manajemen sistem kebencanaan. Terlebih di masa pandemi Covid-19 saat ini. Sehingga gerakan pemuda dalam penanggulangan kebencanaan bisa berjalan sesuai tujuan dengan tetap mengedepankan protokol kesehatan.

Atas dasar hal tersebut, Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Sleman menginisiasi focus group discussion (FGD). Bertema “Mitigasi Bencana bagi Unsur Pemuda, Relawan, dan Komunitas Sosial di Kabupaten Sleman.” Kegiatan yang diselenggarakan pada Senin (16/11) tersebut menjadi sarana untuk mengakomodasi semangat pemuda Sleman dalam membangun jiwa kerelawanan, kepedulian, dan gotong royong menghadapi bencana alam di tengah pandemi Covid-19.

Kepala Dispora Sleman Agung Armawanta menuturkan, tujuan utama digelarnya FGD untuk menyikapi kondisi terkini Merapi. Sehingga diperlukan kesiapsiagaan masyarakat dan semua pihak.

Selain itu untuk memupuk solidaritas sesame dan pengembangan hubungan sosial antar organisasi kepemudaan dan anggotanya. “Lewat kegiatan ini kami ingin memberi ruang partisipasi para pemuda dalam penanggulangan kebencanaan. Sesuai kemampuan dan spesifikasi yang dibutuhkan,” ungkapnya.
Agung menuturkan, pemuda yang ingin menjadi relawan sangat banyak. Padahal tidak gampang menjadi relawan. Menurutnya, relawan harus punya kapasitas pengetahuan, skill, dan fisik yang bagus.

Oleh karena itu, Dispora menggandeng Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sleman untuk memberikan pelatihan keterampilan kebencanaan kepada para pemuda.

Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Sleman Henry Dharma Wijaya menyebut, saat ini terdapat 2.300 kelompok relawan yang terdaftar. Namun belum semua relawan dikerahkan untuk evakuasi kelompok rentan radius 5 kilometer dari puncak Merapi. Sementara hanya relawan dari Komunitas Siaga Merapi (KSM) yang dikerahkan di pengungsian Kalurahan Glagaharjo, Cangkringan.

Kebutuhan jumlah relawan akan terus bertambah apabila status Merapi meningkat awas. “Makanya perlu pemetaan relawan supaya fokus. Disesuaikan skill masing-masing. Misalnya bidang kesehatan, komunikasi, dapur umum, dan lain-lain,” paparnya.

Dalam kondisi pandemi Covid-19, para relawan juga dituntut untuk menegakkan protokol kesehatan. Relawan harus menyertakan surat keterangan sehat sekaligus hasil rapid test ke BPBD. (*/mel/yog) 

Sleman